Yulizar menyebutkan, para santriawan/santriwati tidak perlu segan untuk belajar politik di luar kelas. Atau pun dapat langsung bertanya kepada guru pendidik apabila belum memahami apa arti politik terhadap hak suaranya. Serta manfaatkan perpustakaan pesantren yakni dengan rajin membaca. Sehingga, para santriawan/santriwati di dalam dunia perpolitikan lebih cerdas dan menuju ke arah yang baik.
“Politik merupakan suatu cara untuk merebut kekuasaan. Namun bukan pula penggunaan politik dikaitkan dengan identitas agama, golongan serta lainnya yang menghalalkan segala cara. Termasuk politik identitas yang membahayakan dan dapat memecah belah kehidupan masyarakat, bangsa dan keutuhan NKRI,” kata BSPSU, Drs. H. Yulizar Parlagutan Lubis, Msi.
Lebih lanjut, kepada wartawan ia juga menjelaskan bahwa perlu melakukan kegiatan Silaturahmi Kebangsaan dan Sosialisasi Pendidikan Politik Bagi Pemilih Pemula di pesantren.
“Oleh karena itu, mari sosialiasikan politik ini ke tiap pesantren dan bukan hanya kepada lembaga-lembaga yang berkompoten saja. Apalagi sejak dulu Pesantren sudah ada sebelum Republik ini berdiri. Maka mari kita jaga pesantren bersama ini dari isu, fitnah dan hal negatif politik identitas. Bersama kita mensosialisasikan politik identitas ini kepada anak-anak (santriawan/santriwati) agar mereka bisa lebih memahami,” ucap Yulizar.
Di akhir pesan dan arahan serta harapan, Ketua BSPSU, Drs. H. Yulizar Parlagutan menghimbau kepada para santriawan/santriwati di pesantren pada Pemilu 2024 mendatang, para santriawan/santriwati untuk tidak ragu menggunakan hak suaranya.” Tutup Politisi Partai Persatuan Pembangunan Sumatera Utara.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel