Yesus, di hari-hari ini, sungguh hanya ingin layangkan perhatianNya menuju ‘Saat kesudahanNya di Golgota.’ Tugas keselamatan yang mesti Ia mahkotai di tiang penyaliban. GOLGOTA.
Sayangnya…
Kita bakal tak sanggup menemaniNya. Kita ‘malu, takut, rasa kurang percaya diri’ sekiranya harus menemani, berkawan, dekat dan harus bersama Yesus, ‘manusia yang sudah tidak indah, yang tak punya kuasa dan yang tak tunjukan lagi tanda-tanda kehebatan.’ Sebab, yang kita gemari dan kita cari sejadinya adalah kelimpahan, kuasa, pengaruh, nama besar serta segala keterjaminan.
Dan….
Demikianpun dunia umumnya lebih memilih untuk menjauhi sesamanya yang dianggap kosong otak. Dunia, sekali lagi, lebih terpikat pada daya tarik harta. Dunia terbius pada segala kemudahan yang tersembunyi pada kuasa.
Sementara….
Yesus adalah simbol kaum buangan dan kelompok manusia terkucil, terabaikan dan terluka.
Yesus, kini, adalah ‘ketiadaan.- Pamornya telah redup ditelan ketidakberdayaan derita dan kematian Golgota.
Di hari-hari Pekan Suci ini, kita bahkan ditantang oleh suara Pilatus, suara seorang asing: “Lihatlah manusia itu…..” (Yoh 19:5).
Namun, di saat pengadilan terhadap Yesus, hanya terdengar satu suara koor yang menggema:
“Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!”(Yoh 19:6).
Sekian banyak orang telah kita ‘salibkan.’ Sebab mereka jauh dari harapan kita. Sebab mereka tak layani ambisi dan syarat-syarat yang kita ingini.
Namun….
Kita masih memiliki harapan bersama Maria, Ibu Yesus itu dan para perempuan lainnya, serta murid yang dikasihi. Itulah Komunitas Kaki Salib, yang sungguh setia dan bertahan hingga pada hari kesudahanNya di kefanaan ini. Dalam spirit kaum penuh setia itu, kita berjuang untuk berbalik pada sesama dan dunia yang terluka.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





