Berjalan Bersama di dalam Dunia yang Terluka

(refleksi Minggu Palma – memasuki Pekan Suci)

P. Kons Beo, SVD

Kita memasuki Pekan Suci. Ziarah iman kita hari-hari ini bertumpuh pada situasi-situasi teramat berat, sulit dan rapuh.

Terhadap Yesus yang menderita kita hanya miliki satu kesempatan untuk menjawab “YA” atau sebaliknya “TIDAK;”
“Kita mendekatiNya” atau sebaliknya “Menjauh dariNya atau bahkan mengenyahkanNya?”

Mari menatap kisah para muridNya. Tidak kah di suatu kesempatan, memang terbaca hikayat penuh ujian bagi para murid itu? Karena perkataan-perkataanNya yang terdengar keras dan sulit dimengerti maka “banyak dari -muri-muridNya mengundurkan diri dan tidak bersama DIA lagi” ,(cf Yoh 6:66).

Dan di saat itu jua, Yesus menantang para muridNya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Dan terhadap tantangan Yesus itu, Petrus, wakili para rekan murid, bersuara penuh yakin “TUHAN, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup dan kekal,” (cf Yoh 6:67-69).

Namun?

Yang kita renungkan hari-hari ini adalah satu dua kisah sarat pertentangan. Kesetiaan dan ‘ada bersamaNya‘ tergerus di titik kelam menggetirkan.

Yudas mengkhianatiNya. Yesus dihargai 30 keping uang perak (Mat 26:15). Petrus pun menyangkal (Mat 26:69-75). Dan jalan aman untuk menjauhiNya telah diambil oleh para murid lainnya.

Ingatlah!

Kita pun ternyata tak hebat dan tak kokoh iman seperti yang kita duga bahwa kita memilikinya. Sebab dalam banyak cara bukankah kita pun telah menjauhiNya?

Hari-hari ini Yesus sedikitpun tak sanggup lagi untuk memandang manusia. Untuk memandang setiap kita masing-masing. Tak seperti hari-hari kemarin: saat kita lapar dan haus, saat kita merasa terasing, ketika kita ditimpah sakit dan derita atau pun dikucilkan, ketika kita nyaris kehilangan harapan! Saat kita berkelana tanpa arah dan tiada tujuan….

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel