Keterangan sebenarnya (oleh DitJen EBTKE, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Republik Indonesia)
Kenapa “blow-out” atau sembutan liar terjadi di Mataloko? Menurut PLN hal itu karena salah prosedur penanganan dan alat kurang memadai.
Menurut statistik Pemboran Panas Bumi (DitJen EBTKE – Kementerian ESDM RI) : Satu (1) insiden semburan liar yang tidak terkendali, yaitu di Mataloko, sementara data tersedia dari sumur yang telah dibor sejak tahun 2011, dimana total 242 pemboran sumur geothermal tidak mengalami kejadian semburan liar yang tidak terkendali.
Penyebab semburan liar (blow out) di Mataloko, Sumur MT-1 secara umum karena prosedur penanganan yang tidak sesuai standar, yaitu:
Satu, Injeksi air tidak dilakukan pada saat proses pencabutan peralatan, seharusnya tetap injeksikan air agar lubang tetap dingin.
Dua, Pada saat sebelum kejadian, blow-out preventer (BOP) tidak/belum terinstal.
Tiga, Pada saat semburan liar terjadi, tindakan yang dilakukan malah memutus koneksi pipa pemboran, sehingga akibatnya tidak bisa mengalirkan air dingin ke bawah untuk mengontrol semburan.
Empat, Dalam kondisi panic, langsung menutup katup, sehingga semburan uap malah mencari jalan lain dan mengalir ke tanah warga sekitar sumur.
Langkah-langkah penanggulangan masalah yang telah diambil oleh PLN setelah kejadian “blow-out”.
i) PLN telah melaksanakan sterilasi area di lokasi terjadinya “blow-out”, kemudian dilakukan “plugging” / penutupan wellpad dengan concrete.
ii) PLN mengalirkan lumpur menuju kolam penampungan untuk melokalisir dengan membangun pagar dan menempatkan tim pengawas untuk memonitoring kondisinya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






