Setelah parents lebih tenang, coba kenali situasi pemicunya. Lalu, parents bantu anak untuk mengenali emosinya. Seperti dengan bertutur, ‘Adik, lagi marah ya?’
Berikan batasan juga ke anak. Misal, wajar adik marah, tapi bukan berarti perlu atau dapat melampiaskannya dengan mengatakan hal yang menyakitkan.
Sekarang, tahu tidak parents, emosi anak itu berkembang sejak kapan? Sejak lahir, anak punya kapasitas untuk mengalami emosi-emosi dasar. Masa iya?
Grace menerangkan, sejak lahir, anak dapat mengenali pengalaman yang menyenangkan dan yang tidak, serta yang membuatnya nyaman dan tidak.
Biasanya hal itu tunjukkan dengan respons tangisan atau senyuman.
Misalnya, anak menangis saat lapar atau lelah. Saat ajak bercanda, bayi pun tidak jarang merespons. Semakin besar, pengalaman emosi akan semakin kaya atau beragam.
’’Anak juga lebih mampu mengelola dan mengungkapkan pengalaman emosi dengan efektif. Terutama dengan dukungan yang sesuai dari orang tua,” ungkapnya.
Ketika Orang Tua Melawan, Apa Efeknya?
Mama telanjur baper. Alhasil, mama merespons dengan ucapan: adik juga jahat, mama benci adik juga. Waduh, ada efeknya tidak, ya?
1. Tidak menyelesaikan masalah. Justru bisa menimbulkan masalah baru. Misalnya, anak bilang, mama atau papa jahat. Mama nyahut, iya adik jahat. Banyak kata yang justru menyakitkan nanti.
2. Kualitas hubungan anak dengan orang tua tidak bagus.
3. Menunjukkan hal yang sama. Misalnya, mama bilang juga jahat ke anak. Anak berpikir, mama saja boleh bilang begitu. Masak anak tidak boleh.
Sumber: Jawapos.com
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

