Catatan perjalanan bersama staf lapangan dan mahasiswi magang dalam kegiatan penyadartahuan perubahan iklim di Desa Todo
Oleh: Rikhardus Roden Urut
infopertama.com – Pagi, 22 Mei 2026, saya meninggalkan rumah papan bercat kuning milik keluarga kami di dekat Jembatan Wae Locak, Woang. Jalan Komodo yang kini mulus mulai ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang menuju Ruteng dan kawasan selatan Manggarai.
Hari itu saya bersama Vino, staf lapangan program pemberdayaan sosial ekonomi bagi penyandang disabilitas, keluarga yang memiliki anak difabel, dan para petani di Yayasan Ayo Indonesia, serta dua mahasiswi magang Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng — Ayu Gandut dan Lisa — menuju Desa Todo, Kecamatan Satar Mese Utara untuk memperkenalkan program pastoral diakonia pemberdayaan sosial ekonomi, dan penyadartahuan tentang perubahan iklim.
Keberangkatan rombongan sempat tertunda cukup lama. Setelah menunggu, saya memilih berjalan kaki lebih dahulu. Bagi saya, berjalan kaki bukan sekadar cara mencapai tujuan, tetapi ruang untuk melihat perubahan kampung dan kehidupan masyarakat dari dekat.
Sawah, Kerbau, dan Orong yang Menghilang
Baru beberapa ratus meter berjalan, ingatan saya kembali pada suasana puluhan tahun lalu ketika kawasan sepanjang Jalan Komodo masih berupa hamparan sawah luas. Saat musim tanam tiba, para petani membajak sawah menggunakan kerbau, sementara petani lain menggaru lumpur agar rata sebelum ditanami.
Di atas petak-petak sawah itu, burung bangau hitam atau orong dalam bahasa Manggarai beterbangan bersama gagak. Mereka berputar pelan di udara sambil memperhatikan ikan-ikan kecil yang mulai lemas setelah lumpur berkali-kali diinjak kaki kerbau. Ketika kerbau berhenti beristirahat, gagak turun hinggap di punggungnya mencari kutu, sedangkan orong perlahan turun ke sawah menangkap ikan-ikan kecil di antara lumpur dan jerami.
Sawah pada masa itu hidup oleh suara manusia dan alam. Para petani menyanyikan nenggo sambil membajak. Suara air irigasi, langkah kaki kerbau, dan sapaan antarpetani bercampur menjadi irama khas musim tanam di kampung.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







