Perjalanan Menuju Todo: Refleksi Perubahan Kampung, Iklim, dan Harapan Petani

Kini suasana itu perlahan berubah. Sawah lebih banyak dibajak menggunakan traktor. Suara mesin menggantikan langkah kerbau di lumpur. Burung orong dan gagak semakin jarang terlihat. Entah berpindah atau perlahan menghilang akibat perubahan lingkungan dan penggunaan pupuk serta pestisida kimia yang semakin intensif.

Hamparan sawah yang dahulu luas kini sebagian berubah menjadi rumah permanen, toko, kios, bengkel, dan warung makan. Aktivitas perdagangan semakin ramai, pendatang terus bertambah, sementara sebagian lahan perlahan berpindah kepemilikan.

Namun di tengah perubahan itu, sebagian rumah papan tua masih berdiri sunyi. Ada rumah gendang tanpa penghuni, ada pula rumah papan dengan mobil pick-up pengangkut barang dagangan berpelat luar daerah terparkir di halamannya. Modernitas akhirnya menghadirkan dua kenyataan sekaligus: sebagian orang bertumbuh bersama perubahan, sementara sebagian lainnya tetap berjalan pelan di tengah keterbatasan.

Beruntung, masih ada petani yang mempertahankan sawah mereka. Sebab sawah bukan hanya sumber pangan, tetapi juga bagian dari identitas kampung.

Mama-Mama Penjual Bensin

Di kiri dan kanan jalan sebelum dan sesudah SPBU Mena, sejumlah mama-mama tua masih terlihat menjual bensin eceran dalam botol kaca. Mereka duduk di bawah payung kusam ditemani debu, asap kendaraan, dan panas jalan raya sambil menunggu pembeli.

Pemandangan itu selalu meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Mama-mama tua itu seakan tidak ingin asap dapur di rumah mereka padam. Di usia yang tidak lagi muda, mereka tetap bertahan mencari rezeki demi keluarga.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN