Ada kasih seorang ibu yang bekerja diam-diam di balik panas jalan raya. Ada ketangguhan yang jarang dibicarakan dalam laporan pembangunan, tetapi nyata terlihat dari cara mereka menunggu pembeli sejak pagi hingga sore.
Perubahan Iklim dan Harapan Petani
Sekitar satu kilometer sebelum memasuki Desa Todo, kendaraan Terios yang membawa sebagian rombongan mengalami kemacetan. Tidak lama kemudian beberapa aparat desa datang menggunakan sepeda motor untuk menjemput kami agar kegiatan segera dimulai.
Setibanya di kantor desa, peserta ternyata sudah lama menunggu. Dalam kegiatan tersebut kami berdiskusi tentang perubahan iklim dan pemberdayaan masyarakat.
Perubahan iklim bagi masyarakat Manggarai bukan lagi sekadar istilah ilmiah. Dampaknya mulai dirasakan langsung melalui menurunnya debit air dan hasil pertanian. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Manggarai menunjukkan produksi beras menurun sekitar 15,7 persen, sementara produksi sayuran turun antara 60 hingga 80 persen. Di sisi lain, hasil pengukuran PDAM Manggarai menunjukkan debit air menurun hingga 44 persen dalam beberapa tahun terakhir.
Musim kini semakin sulit diprediksi. Kadang hujan turun terlalu panjang, sementara pada waktu lain kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya.
Bersama Ayu Gandut dan Lisa, kami memperkenalkan pemanfaatan biochar atau arang hayati sebagai salah satu upaya adaptasi terhadap perubahan iklim. Biochar diperkenalkan sebagai media yang dapat membantu tanah menyimpan air dan unsur hara lebih lama sehingga tanaman lebih mampu bertahan saat cuaca ekstrem.
“Sekarang kita bisa merasakan sendiri musim yang mulai berubah. Air semakin sulit, hasil kebun menurun, dan masyarakat kecil yang paling dulu merasakan dampaknya,” saya menjelaskan kepada peserta.
Ayu dan Lisa kemudian menjelaskan bahwa biochar dibuat melalui proses pembakaran dengan kadar oksigen rendah agar kualitas karbon tetap baik untuk memperbaiki struktur tanah.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







