“Biochar sebenarnya sederhana, tetapi manfaatnya cukup besar. Tanah bisa lebih kuat menyimpan air dan unsur hara sehingga tanaman lebih tahan menghadapi cuaca ekstrem,” jelas mereka.
Dalam diskusi, salah satu peserta, seorang bapak, meminta agar masyarakat diajarkan cara membuat arang serta teknik penerapan pupuk organik karbon pada tanaman sayuran bagi anggota Kelompok Disabilitas Desa Todo.
“Saya sendiri mau mulai menanam sayur untuk tujuan ekonomi,” ujarnya.
Seorang ibu peserta lainnya juga membagikan pengalamannya. Menurutnya, tanaman yang ditanam di lahan bekas pembakaran semak yang masih mengandung arang tumbuh lebih subur dibandingkan lahan biasa.
Kegiatan tersebut dihadiri Penjabat Kepala Desa Todo beserta aparat desa, keluarga disabilitas yang tergabung dalam Kelompok Disabilitas Desa (KDD) Todo, dan para petani muda.
Penjabat Kepala Desa Todo, Rivandus Ramalatyan Simpat, mengapresiasi kegiatan yang dilakukan Yayasan Ayo Indonesia karena dinilai membuka pola pikir masyarakat terkait dampak perubahan iklim sekaligus mendorong kemandirian kelompok disabilitas melalui usaha ekonomi produktif.
“Kegiatan ini membuka pola pikir masyarakat Desa Todo terkait dampak perubahan iklim yang sedang terjadi dan memacu minat masyarakat disabilitas akan pentingnya hidup mandiri melalui jenis usaha yang nantinya didampingi Yayasan Ayo Indonesia,” ujarnya.
Menjelang akhir kegiatan, peserta dan tim pendamping sepakat mengadakan pelatihan khusus pembuatan biochar dan penerapannya pada 19 Juni 2026.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







