Cepat, Lugas dan Berimbang

Soal Kasus Dugaan Penganiayaan Daycare Yogyakarta, Begini Penjelasan Psikolog UST

Yogyakarta, infopertama.com – Kasus dugaan kekerasan terhadap anak baru-baru ini di sebuah daycare di Yogyakarta bukan sekadar peristiwa kriminal. Ia adalah krisis kepercayaan.

Daycare, sebuah ruang aman yang kini berubah menjadi ancaman di Umbulharjo, kota Yogyakarta ini patut menjadi perhatian semua, terutama orangtua.

Sebab, ruang yang semestinya menjadi perpanjangan tangan orang tua dalam merawat anak, justru muncul dugaan perlakuan yang mengkhianati amanah tersebut.

Kepercayaan diyakini sebagai fondasi utama dalam relasi antara orang tua dan lembaga penitipan anak.

Psikolog UST Yogyakarta, Flora Grace Putrianti, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog menjelaskan kasus dugaan penganiayaan daycare Yogyakarta dari kacamata psikologi.

Menurutnya, dalam perspektif psikologi sosial, kepercayaan (trust) terbentuk dari tiga hal: persepsi kompetensi, integritas, dan niat baik.

Orang tua menitipkan anak bukan hanya karena kebutuhan praktis, tetapi karena mereka meyakini bahwa pengasuh memiliki kemampuan, nilai, dan kepedulian yang sejalan dengan mereka.

“Ketika kasus kekerasan muncul, yang runtuh bukan hanya reputasi sebuah lembaga, tetapi juga struktur kepercayaan itu sendiri.” Ujar Flora Grace Putrianti, Minggu, 26 April.

Dalam kajian perilaku konsumen, jelas Flora, kepuasan pelanggan (customer satisfaction) sering kali menjadi indikator utama kualitas layanan. Namun dalam konteks daycare, kepuasan orang tua kerap bersifat “semu”.

“Orang tua merasa puas karena anak tampak baik-baik saja saat dijemput, lingkungan terlihat bersih, atau pengasuh tampak ramah. Padahal, anak usia dini belum memiliki kapasitas untuk melaporkan pengalaman negatif secara jelas.” Ujar Flora Grace, owner Harmonia Psychocare via gawainya kepada infopertama.com.

Di sinilah muncul kesenjangan antara persepsi dan realitas. Teori service quality gap menjelaskan bahwa perbedaan antara harapan dan kenyataan bisa terjadi ketika informasi yang diterima pelanggan tidak utuh.

Dalam kasus daycare, keterbatasan transparansi—seperti tidak adanya akses pemantauan langsung—membuat orang tua tidak memiliki gambaran penuh tentang apa yang dialami anak.

Lebih jauh, dari perspektif psikologi perkembangan, anak usia dini berada dalam fase pembentukan kelekatan (attachment). Mengacu pada teori kelekatan John Bowlby, hubungan yang aman dengan pengasuh akan membentuk rasa percaya terhadap dunia.

Sebaliknya, pengalaman negatif dapat menumbuhkan kecemasan, ketakutan, bahkan gangguan dalam relasi sosial di masa depan.

“Ketika anak mengalami perlakuan kasar di tempat penitipan, yang terganggu bukan hanya kenyamanan sesaat, tetapi juga fondasi psikologis jangka panjang.”

Di sisi lain, orang tua sebagai pengambil keputusan juga tidak lepas dari bias psikologis.

Ia menuturkan, konsep trust transfer menjelaskan bahwa kepercayaan sering kali dibangun dari kesan awal—misalnya rekomendasi orang lain, tampilan fasilitas, atau sikap ramah pengelola. Kepercayaan ini kemudian “ditransfer” menjadi keyakinan penuh, meskipun belum tentu didukung oleh bukti yang kuat.

Dalam situasi tertentu, muncul pula fenomena cognitive dissonance, di mana orang tua cenderung mengabaikan tanda-tanda kecil yang janggal karena tidak ingin mengakui bahwa pilihan mereka mungkin keliru. Ini bukan bentuk kelalaian, melainkan mekanisme psikologis untuk mengurangi kecemasan.

“Karena itu, kasus ini tidak dapat disederhanakan sebagai kesalahan individu semata. Ia mencerminkan kegagalan sistem dalam menjaga kualitas layanan, transparansi, dan akuntabilitas.” Ujar Flora Grace, dosen fakultas Psikologi UST Yogyakarta.

Menurutnya, pengasuhan anak bukan sekadar jasa, melainkan tanggung jawab moral yang menyangkut masa depan manusia.

Ke depan, pendekatan terhadap layanan daycare perlu bergeser. Tidak cukup hanya mengandalkan kepuasan pelanggan, tetapi harus berbasis pada child-centered care, yakni menempatkan keselamatan dan kesejahteraan anak sebagai prioritas utama.

“Transparansi, pengawasan, serta standar kompetensi pengasuh harus menjadi prasyarat mutlak. Pada akhirnya, kepercayaan adalah sesuatu yang dibangun perlahan, tetapi bisa runtuh dalam sekejap.”

Demikian Flora Grace, dalam konteks pengasuhan anak, runtuhnya kepercayaan bukan hanya merugikan orang tua, tetapi juga dapat meninggalkan jejak mendalam pada kehidupan anak.

“Menjaga anak berarti menjaga kepercayaan. Dan menjaga kepercayaan, pada akhirnya, adalah menjaga masa depan.”

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN