infopertama.com – Di Kampung Tado, Desa Tado, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, panas bukan sekadar cuaca—ia adalah kenyataan sehari-hari. Dengan curah hujan yang hanya berlangsung sekitar enam bulan dalam setahun dan sangat bergantung pada kondisi cuaca dari Pulau Sumba, air menjadi sesuatu yang tak selalu bisa diandalkan.
Kondisi lahannya didominasi tanah berbatu dengan topografi agak miring. Saat musim hujan, daya resap air tergolong baik sehingga tanah tidak mengalami kejenuhan yang berisiko merusak akar tanaman, termasuk sorgum. Di sisi lain, lahan yang terbuka memungkinkan sinar matahari masuk secara optimal, mendukung pertumbuhan tanaman di tengah keterbatasan air.
Suhu udara dapat mencapai 30 derajat Celsius, mempercepat hilangnya air dari permukaan tanah. Dalam kondisi seperti ini, bertani sering kali lebih dekat pada ketidakpastian.
Bagi Eginius Dahat (58), situasi itu sudah lama ia jalani. Ia tidak memiliki sawah dan harus membeli beras setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara itu, lahan seluas satu hektar miliknya sempat dibiarkan kosong—kering dan dianggap tidak produktif.
Kondisi ini juga mencerminkan situasi yang lebih luas di Manggarai.
Data produksi beras dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang tidak sepenuhnya stabil. Pada 2018, produksi beras tercatat sebesar 58.086 ton. Angka ini kemudian menurun menjadi 53.626 ton pada 2019, dan relatif stagnan di kisaran 53.811 ton pada 2020. Sempat meningkat pada 2021 hingga 56.484 ton, produksi kembali menurun pada 2022 menjadi 51.755 ton, bahkan turun tajam pada 2023 ke angka 46.611 ton—terendah dalam periode tersebut.
Pada 2024 dan 2025, produksi mulai menunjukkan sedikit pemulihan, masing-masing sebesar 48.918 ton dan 49.060 ton. Namun demikian, angka ini masih belum mampu menyamai capaian tahun-tahun sebelumnya.
Fluktuasi ini bukan sekadar angka statistik. Ia mencerminkan tekanan nyata yang dihadapi petani—perubahan pola hujan, keterbatasan air, dan semakin rentannya sistem produksi pangan berbasis beras. Ketergantungan pada satu jenis pangan pun menjadi semakin berisiko.
Namun, di tengah kondisi yang tampak sulit itu, perubahan mulai tumbuh sejak 2023.
Dari Pendampingan ke Perubahan
Melalui program pengembangan sorgum oleh Yayasan Ayo Indonesia bersama Yayasan KEHATI, Eginius mulai mencoba sesuatu yang baru. Pendampingan dilakukan dengan pendekatan lejong, yang membangun relasi seperti keluarga.
Setiap minggu, Gusto, pendamping lapangan, datang mengunjungi Eginius. Dari percakapan sederhana itulah, kepercayaan tumbuh.
“Waktu saya lejong dengan Om Egi, dia sangat serius mendengarkan saat saya menjelaskan tentang sorgum. Dia orangnya terbuka,” kata Gusto.
Meski telah lama mengenal pola musim, Eginius menyadari bahwa perubahan iklim membuat waktu tanam semakin sulit diprediksi. Perkiraan kadang meleset, hasil tidak selalu pasti.
Namun, hal itu tidak mematahkan semangatnya.
Di balik proses pendampingan itu, ada upaya yang tidak ringan. Gusto harus menempuh perjalanan dari Borong ke Tado menuju wilayah pesisir selatan Manggarai, menyusuri jalan yang sebagian aspalnya berlubang. Ia juga melewati bibir pantai yang ditumbuhi aneka jenis pohon dan tanaman khas yang mampu bertahan di lingkungan pesisir yang keras.
Perjalanan itu belum berakhir di sana. Di beberapa titik, ia harus melewati kali tanpa jembatan. Saat musim hujan tiba, arus air meningkat dan membuat perjalanan menjadi jauh lebih berisiko. Tidak jarang ia harus menunggu air surut atau mencari jalur alternatif.
Perjalanan itu melelahkan, tetapi tetap ia jalani secara rutin. Bagi Gusto, setiap kunjungan bukan sekadar tugas, melainkan bagian dari komitmen untuk memastikan pendampingan tetap berjalan.
Panen dari Lahan yang Pernah Ditinggalkan
Eginius mulai menanam sorgum di lahannya tanpa pupuk kimia. Bersama istrinya, ia merawat tanaman itu hingga panen.
Hasil pertama mencapai sekitar 600 kilogram. Sebanyak 250 kilogram digunakan untuk konsumsi keluarga dengan mencampur sorgum dan beras dalam komposisi 60:40. Pola ini membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga.
Sisanya dijual dengan harga sekitar Rp12.000 per kilogram, menghasilkan tambahan pendapatan sekitar Rp4,3 juta. Sebagian juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kini menjadi sumber pangan sekaligus pendapatan.
Perubahan yang Menggerakkan
Perubahan di kebun Eginius tidak berhenti pada dirinya sendiri. Hingga kini, setidaknya 11 petani mulai belajar dan mengikuti praktik budidaya sorgum, dengan total luas lahan mencapai kurang lebih 5 hektar.
Dari jumlah tersebut, dua di antaranya adalah Alosia F. Ganut (58) dan Katarina Jenat yang telah berusia sekitar 80 tahun.
Ketertarikan mereka bermula dari apa yang mereka lihat langsung di lapangan. Lahan kering yang berubah menjadi hijau menghadirkan kemungkinan baru. Melihat pengalaman yang menjawab persoalan pangan, mereka pun tergerak untuk mengikuti.
Sebagai ibu, keduanya memiliki dorongan kuat untuk memastikan pangan selalu tersedia di rumah. Dalam keseharian, merekalah yang menjaga dapur tetap “menyala”.
Mereka mulai menanam sorgum dengan benih varietas Super 1. Hasilnya, Alosia memperoleh sekitar 150 kilogram dan Katarina sekitar 100 kilogram.
Seluruh hasil panen dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga. Sorgum dicampur dengan beras dan dinilai tetap enak, bahkan tanpa pemupukan karena tanah masih mengandung unsur hara alami. Namun, untuk meningkatkan produktivitas ke depan, penggunaan pupuk organik menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan.
Di sinilah tantangan baru muncul. Ketiadaan ternak membuat sumber pupuk organik belum tersedia, menjadikannya pekerjaan rumah yang harus dihadapi ke depan. Meski demikian, manfaat yang sudah dirasakan jauh lebih nyata—pengeluaran untuk membeli beras mulai berkurang.
Pengalaman itu menjadi bekal penting. Bagi Alosia dan Katarina, hasil yang mereka lihat dan rasakan sendiri cukup untuk menumbuhkan keyakinan. Mereka pun berkomitmen untuk terus menanam sorgum sebagai sumber pangan keluarga.
Dari Satu Lahan ke Banyak Harapan
Pengalaman Eginius tidak berhenti di lahannya sendiri. Ia mulai berbagi benih dan pengetahuan kepada petani lain.
Dalam pertemuan petani sorgum di Ruteng pada 27 Februari yang dihadiri 24 peserta, ia menyampaikan bahwa sorgum dapat menjadi solusi untuk mengurangi biaya pangan sekaligus menambah pendapatan.
Ia juga mendorong pembentukan kelompok tani agar pengembangan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Menumbuhkan Masa Depan dari Lahan Kering
Kini, penanaman sorgum dilakukan secara rutin mengikuti musim, yaitu November dan Januari.
Lahan yang dulu dibiarkan kini kembali diolah. Pangan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada beras. Dan yang terpenting, harapan mulai tumbuh—tidak hanya bagi satu keluarga, tetapi juga bagi komunitas.
Dari tanah yang kering, perubahan itu nyata.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



