Yesus dan Aksi Makan Siang Gratis

Ini rasa penuh sangsi yang bisa dimaklumi. ‘Mau ambil uang dari mana untuk dapatkan roti dan susu gratis? Dan bagaimana harus membelinya di tempat yang sekian ‘hampa dan sunyi.’ Tetapi, toh akhirnya makan siang gratis itu tetap terlaksana. Mujizat telah terjadi. Karena kuasa Yesus, publik makan dan minum sejadinya. Malah tercatat, “masih tekumpul dua belas bakul setelah orang-orang pada makan.”

Namun, itu bukanlah ‘sisa-sisa makanan.’ Tafsirlah secara lain. Agar khalayak itu tak usahlah hanya berpikir tentang ‘laparnya sendiri.’ Dan menjadi lupa akan sesama yang lain. Katakan bahwa menjadi lupa akan generasi berikutnya. Agar janganlah ‘demi makan siang gratis, segalanya mesti tersedot sejadinya. Seolah-olah manusia itu hanya dari roti (makan gratis) saja. Toh, masih ada pojok-pojok lainnya demi kehidupan yang berimbang. Tapi, mari lanjut mencakar-cakar teks Injil.

Tindak penyembuhan masal dan ‘makan siang gratis’ ternyata punya gema populis. Bukannya Yesus tak tahu gejolak hati massa agar ia mesti didaulat sebagai Raja. Dan, tentu juga para murid – koalisi Yesus itu, yang juga mendulang simpati publik. Dan apakah yang disikapi Yesus setelah ‘tindak penyembuhan massal dan makan gratis itu?

“Karena Yesus, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia Raja, Ia menyingkir ke gunung, seorang diri” (Yoh 6:15).

Yesus, sebenarnya, sudah punya modal tebal ketenaranNya dari aksi-aksi populisNya itu. Terlalu mudah bagi Yesus untuk dipilih jadi raja, sekiranya ada pemilihan publik. Ia malah tak perlu bersusah-susah lagi dengan segala strategi untuk kembungkan jumlah simpati massa. Justru orang banyaklah yang mencari Dia. Lalu yang terjadi?

Laman: 1 2 3 4

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses