“Penjaga bukan tukang menghakimi. Penjaga adalah orang yang berani bersuara karena peduli.”
Ia mengingatkan bahwa kehidupan sehari-hari menghadirkan banyak situasi saat umat perlu saling mengingatkan, baik dalam keluarga, lingkungan, maupun komunitas. Contohnya ketika melihat anak mulai menjauh dari doa, seseorang terjerat judi daring, atau timbul kebiasaan menjelek-jelekkan orang lain.
Dalam situasi seperti itu, diam memang terasa lebih mudah. Namun, kepedulian menuntut keberanian untuk menegur dan mengingatkan.
“Menegur itu berat, tetapi itu adalah bentuk cinta,” tegasnya.
Teguran Harus Menjaga Martabat
Meski demikian, Pater Kristianus mengingatkan bahwa teguran tidak boleh berubah menjadi penghukuman atau cara mempermalukan orang lain.
Pesan tersebut ia hubungkan dengan Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma bahwa kasih merupakan kegenapan hukum. Oleh karena itu, setiap teguran harus lahir dari kasih.
“Kalau menegur tetapi dengan hati benci, itu bukan dari Tuhan. Kalau mengingatkan tetapi dengan nada menjatuhkan, itu bukan Injil,” katanya.
Dalam konteks keluarga, pesan ini sangat krusial dalam pendidikan anak. Mendidik anak memang membutuhkan ketegasan, tetapi ketegasan tersebut tidak boleh berubah menjadi kekerasan. Kasih harus menjadi dasar utama dalam membangun relasi antara orang tua dan anak.
Menyelesaikan Persoalan dengan Cara Yesus
Pater Kristianus juga mengajak umat belajar dari Injil Matius 18:15-20 mengenai cara menyelesaikan konflik.
Ia menekankan bahwa persoalan dengan sesama hendaknya terlebih dahulu diselesaikan secara pribadi atau “empat mata” guna menjaga martabat orang yang bersangkutan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











