“Bulan ini akan mengantar kita, mulai dari anak-anak sampai orang tua dan dewasa dengan berbagai latar belakang profesi, untuk membaca Kitab Suci,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Kitab Suci tidak sekadar dibaca sebagai teks keagamaan, melainkan harus menjadi sumber pembentukan hidup.
“Kitab Suci menjadi pelita yang mengarahkan seluruh perjalanan hidup kita, termasuk dalam proses pendidikan anak,” katanya.
Oleh karena itu, menurut Pater Kristianus, keluarga menjadi salah satu ruang utama untuk menghidupkan Sabda Allah. Orang tua perlu menghadirkan nilai-nilai Injil dalam cara mendidik, mendampingi, dan memperlakukan anak.
Pesan tersebut menjadi semakin penting dalam konteks Gerakan Paroki Sayang Anak.
“Kita semua menyadari masih cukup banyak terjadi kekerasan dalam rumah tangga yang menyasar anak-anak,” tuturnya.
Melalui permenungan Sabda Allah tentang kasih Yesus kepada anak-anak, Pater Kristianus mengajak orang tua untuk memberikan perhatian penuh kepada anak dalam seluruh aspek kehidupan.
“Melalui permenungan Sabda Allah, di mana Tuhan Yesus mencintai anak-anak, hal itu hendaknya menjadi perhatian orang tua pada segala aspek kehidupan,” ujarnya.
Umat Dipanggil Menjadi Penjaga, Pengasih, dan Penegak Kasih
Sebelumnya, dalam homili Misa Minggu, Pater Kristianus mengangkat tema “Penjaga, Pengasih, dan Penegak Kasih”.
Tema tersebut merujuk pada bacaan Yehezkiel 33:7-9, Roma 13:8-10, dan Matius 18:15-20.
Menurut Pater Kristianus, Sabda Allah menempatkan umat dalam tiga peran sekaligus, yakni sebagai penjaga, pengasih, dan penegak kasih.
Mengacu pada Nabi Yehezkiel, ia menyampaikan bahwa menjadi penjaga berarti berani bersuara ketika melihat sesuatu yang salah—bukan untuk menghakimi, melainkan atas dasar kepedulian.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











