“Kami tidak ingin hanya menjadi kampus lokal dengan mimpi global. Kami sedang membangun kenyataan itu. Kehadiran teman-teman mahasiswa dari Filipina menjadi bagian penting dalam perjalanan ini,” ungkapnya.
Baca juga: Dr. Manfret Habur jadi Rektor Unika Ruteng
Ia melanjutkan bahwa program student exchange seperti ini memberikan manfaat dua arah: mahasiswa asing mendapat pengalaman belajar di lingkungan dan budaya baru, sementara institusi tuan rumah mendapat kesempatan untuk memperkaya interaksi dan perspektif pembelajarannya.
“Pengalaman lintas budaya ini bukan hanya bermanfaat bagi peserta program, tetapi juga mendorong transformasi cara berpikir, cara mengajar, dan bahkan cara kita memahami dunia,” tegasnya.
Menjawab Tantangan MEA dengan Keterbukaan dan Kolaborasi
Rektor juga menekankan bahwa keterlibatan Unika dalam kolaborasi internasional merupakan bagian dari kesiapan institusi dalam menghadapi tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
“Di tengah arus MEA, perguruan tinggi tidak cukup hanya dengan kurikulum yang baik. Kita butuh jejaring, inovasi, dan keberanian untuk berkolaborasi lintas batas,” Jelasnya.
Ia menyebut bahwa program ini menjadi role model yang akan terus dikembangkan, baik dengan Filipina maupun negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Baca Juga: 120 Mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng Ikut LKMM
Misi Unika untuk Pendidikan yang Berkarakter
Lebih dari sekadar program magang, inisiatif ini mencerminkan misi Unika Santu Paulus Ruteng untuk menjadi komunitas akademik yang transformatif, kolaboratif, dan berkarakter.
“Kami tidak ingin berdiri sendiri. Dunia terlalu luas untuk dijelajahi sendiri. Kita perlu berjalan bersama, belajar bersama, dan tumbuh bersama,” tutup Rektor.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






