Upaya dan niat baik kita tentu tidak selamanya diterima dan disambut dengan senang hati oleh orang lain. Seperti Bangsa Israel, dalam hidup bersama selalu saja ada orang yang tidak insaf dan tidak sadar. Selalu saja ada orang yang menolak kita. Bila hal itu terjadi, janganlah kita ‘murka’. Kita tidak boleh berbalik menjadi musuh terhadap orang lain yang membenci, memusuhi dan menolak kita. Seperti Tuhan sendiri, kebaikan dan belas kasihan mesti selalu bangkit dan terarah kepada orang-orang lain yang membenci dan menolak kita.
Lebih dari itu, apabila Tuhan begitu baik terhadap Israel, hendaklah kita menerima dan menyambut kebaikan Tuhan dengan penuh syukur dan sukacita.
Kebaikan Tuhan tidak boleh disalahgunakan untuk hal-hal yang menentang Tuhan. Bila kita menentang Tuhan, kita akan menderita dan menanggung akibatnya. Kebaikan Tuhan adalah berkat dan rahmat untuk membantu kita agar kita bertumbuh dan berkembang menjadi orang yang berguna bagi Tuhan, bagi sesama dan bagi diri sendiri.
Sebab itu, bila kita mencari kebaikan Tuhan, janganlah kita bersikap dan bertindak menjadi orang yang aneh-aneh yang hanya menyusahkan diri sendiri, menyebalkan dan merepotkan orang lain. Dengan singkat Rasul Paulus berkata: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” (Rm 12: 17-18).
Kebaikan adalah modal perdamaian. Bila kita berbuat baik dengan orang lain, apalagi dengan semua orang, pasti perdamaian bertumbuh dengan mekar dalam kehidupan bersama. Maka “janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik (mengasihi) kepada semua orang” (Gal 6: 9-10).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





