Mari merenung lanjut….
Insan beriman, secara pribadi atau kolektif, bisa saja diarahkan oleh pemuka agama kepada nikmat surgawi eskatonik. Iya, yang dialami di masa yang akan datang itu. Namun, mirisnya, kepentingan dan keuntungan duniawi itulah, justru yang kini dan di sini, direguk oleh pemuka agama atau tepatnya sebenarnya disebut sebagai ‘pebisnis agama.’ Sensus religiosus telah diisap dan diserap oleh gairah hedonistik yang tak terkendali.
Lalu, apa sebenarnya yang sepantasnya ditatap dalam bola mata ‘kontemplatif?’
Kata-kata perenungan Henri Nouwen sungguh terdengar menukik serentak menggugat. Tulisnya, “Kebanyakan dari kita memiliki alamat tapi tidak dapat ditemukan di sana.” Dalam kisah-kisah sederhana itu terlihat menyata. Kita bisa saja ‘didisiplinkan’ dalam aturan dan program. Itulah ‘alamat keseharian kita.’ Sayangnya, betapa sulit dan jarangnya ‘kita ditemukan di sana.’
Kebanyakan “alamat-alamat itu tergambar dan berlogo penuh harapan.” Namun akan kah semuanya terjumpakan di sana? Centra layanan keamanan bisa saja justru menjadi sumber kerisauan dan keonaran. Forum keadilan dan perdamaian tak selamanya jadi ‘tempat tinggal’ untuk sebuah rasa keadilan dan alam sejuk di hati.
Dalam sebuah ‘locus religiosus, yang mengikat’ tak jarang betapa sulitnya memintal benang-benang kasih sayang demi suasana penuh harmoni. Sebab bukanlah alamat bersama yang mesti nyata, tetapi ‘tempat tinggal sendirilah’ yang digencarkan!
Siapapun sebenarnya bisa hanya melihat ‘dengan ekor mata’ apa yang menjadi ‘alamat bersama.’ ‘Alamat bersama itu’ bisa saja tertulis besar-besar sebagai visi, misi, komitmen, regulasi, pedoman dan arah. Namun, apa kah keseluruhan diri ini dijumpakan di sana? Sebab, tenggelam dalam irama serta larut dalam aneka keasyikan sendiri bisa menjadi tantangan yang menghadang.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





