Penyelidikan mendesak kini dilakukan untuk mengetahui bagaimana rudal-rudal Iran bisa menembus sistem pertahanan udara Israel.
Namun, seperti yang terjadi dalam perang 12 hari musim panas lalu, masyarakat Israel sadar bahwa sistem tersebut tidaklah sempurna.


Pusat Riset Nuklir Shimon Peres Negev—berlokasi di gurun Negev—sering disebut secara populer sebagai “reaktor Dimona.” Selama ini, fasilitas tersebut diyakini menyimpan persenjataan nuklir Israel yang tidak pernah diumumkan secara resmi.

Secara resmi, situs itu disebut hanya berfokus pada penelitian. Namun, selama sekitar enam dekade, sudah menjadi rahasia umum bahwa Israel mengembangkan bom nuklir di sana, meski setiap pemerintahan yang berganti tetap mempertahankan sikap ambigu.
Hal ini menjadikan Israel satu-satunya kekuatan nuklir di Timur Tengah. Karena itu, setiap indikasi bahwa fasilitas tersebut menjadi sasaran serangan dipandang dengan sangat serius oleh Israel.
Namun, pemerintah Israel menegaskan tidak ada kebocoran material radioaktif dan tidak ada bahaya bagi penduduk di sekitar lokasi.
Natanz juga menjadi sasaran pada hari-hari pertama perang yang dimulai 28 Februari, serta saat perang 12 hari pada Juni lalu.
Ketika ditanya mengenai Natanz pada Sabtu (21/03), Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyampaikan kepada media Israel dan internasional bahwa mereka tidak mengetahui adanya serangan di wilayah tersebut.
Organisasi Energi Atom Iran menyebut serangan terhadap fasilitas Natanz sebagai pelanggaran terhadap Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












