Setelah menyampaikan komentar, anak-anak kembali duduk bersila dan menghadap ke arah para orang tua untuk mendengarkan tanggapan serta pandangan dari orang dewasa. Suasana itu memperlihatkan adanya ruang dialog yang hangat antara anak-anak dan orang tua dalam semangat saling mendengarkan dan menghargai.
Salah seorang anak yang mengikuti kegiatan tersebut mengaku senang karena mereka diberi ruang untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. “Saya dan teman-teman senang karena diberi kesempatan untuk bicara dan tadi teman-teman saya semua memberi komentar. Ketika ditanyakan apa yang penting dalam keluarga, spontan kami menjawab relasi kasih,” ujarnya polos di tengah suasana diskusi.
Dalam sesi dialog, Herman mengajak anak-anak terlibat aktif dengan menanyakan alasan mengapa orang tua terkadang memarahi mereka. Beberapa anak menjawab karena mereka dianggap nakal atau tidak mendengarkan nasihat orang tua. Namun, salah satu anak juga menyebut kebiasaan sebagian orang tua yang sering mengonsumsi sopi, minuman keras tradisional khas Manggarai.
Pernyataan tersebut kemudian memantik diskusi lebih luas di tengah umat. Seorang ibu berkacamata yang hadir dalam pertemuan itu menyampaikan pendapat bahwa minuman keras sering menjadi pemicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga maupun terhadap anak-anak.
Herman membenarkan hal tersebut dan menambahkan bahwa selain miras, faktor perjudian, tekanan ekonomi, dan kurangnya komunikasi sehat dalam keluarga juga sering menjadi penyebab munculnya kekerasan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







