Di tengah kondisi ini, Flores yang berada di lintasan Ring of Fire sebenarnya menyimpan potensi panas bumi yang melimpah. Jika selama ini kondisi geologis gunung berapi kerap dipandang sebagai ancaman bencana, potensi tersebut seyogianya dapat dikelola secara bertanggung jawab sebagai sumber energi bersih dan berkelanjutan.
Mempertemukan Pengetahuan Lokal dan Pengujian Ilmiah
Penolakan atau kekhawatiran warga terkait penurunan debit mata air, kerusakan ruang adat, maupun potensi gangguan lingkungan lainnya adalah masukan berharga yang wajib ditanggapi secara serius oleh pemerintah dan investor. Pengetahuan lokal masyarakat adat dan petani tidak boleh dipandang lebih rendah daripada kajian teknis ahli.
Namun, prinsip dialog yang sehat menuntut keterbukaan dua arah:


- Pemerintah dan Pengembang wajib melakukan pengujian hidrogeologi secara transparan. Jika terbukti ada risiko besar terhadap mata air atau situs adat bernilai vital, lokasi proyek harus dipindah atau dibatalkan.
- Kelompok Penolak/Kritikus juga harus menguji klaimnya secara ilmiah dan tidak menggeneralisasi bahwa seluruh pembangunan geotermal pasti merusak lingkungan.
Pertanyaan Kunci: Apa Alternatifnya?
Masalah mendasar timbul ketika gerakan penolakan tidak disertai dengan alternatif solusi energi yang konkret.
Jika panas bumi ditolak, apakah Flores harus terus bergantung pada pembangkit listrik berbahan bakar solar atau batu bara yang tinggi emisi dan harus didatangkan dari luar pulau?
Energi terbarukan seperti matahari (PLTS) dan angin memang sangat potensial, namun sifatnya intermiten (tidak dapat berproduksi stabil 24 jam tanpa baterai raksasa yang mahal).
Sistem energi yang ideal bagi Flores bukanlah memilih salah satu dan menolak yang lain, melainkan memadukan energi surya, angin, dan hidro dengan geotermal sebagai penopang beban dasar (baseload) yang beroperasi stabil selama 24 jam.
Keadilan Lingkungan dan Tanggung Jawab Moral
Pemanfaatan listrik oleh masyarakat Flores saat ini pada dasarnya juga menimbulkan dampak lingkungan di tempat lain—misalnya di daerah tambang batu bara atau kilang minyak lokasi asal BBM. Secara moral, tidak adil jika suatu daerah menolak seluruh risiko produksi energi di wilayahnya sendiri, namun tetap mengonsumsi energi fosil yang membebankan risiko ekologis kepada masyarakat di daerah lain.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel










