PLTSa Putri Cempo Solo Resmi Beroperasi

“Kami tidak menggunakan pembakaran atau insinerasi. Bisa dilihat di sini tidak ada cerobong asap sama sekali,” kata dia.

Diakui, PLTSa Putri Cempo masih menghasilkan produk sampingan di luar energi listrik. Produk tersebut berupa bottom ash (abu) dan kondensat berupa cairan. Namun dua sisa proses pengolahan sampah tersebut diklaim tidak mengandung bahan berbahaya.

“Malah ada nilai ekonomisnya. Bottom ash-nya bisa dipakai untuk bahan pembuatan conblock. Kalau kondensatnya bisa diolah menjadi disinfektan,” kata Elan.

Investasi Rp300 Miliar, BEP 9 Tahun

Dengan nilai investasi sebesar Rp300 miliar, PLTSa Putri Cempo dibangun disebut-sebut mampu menghasilkan listrik 8 mW. Elan mengatakan tak semua listrik yang dihasilkan akan dijual ke PLN.

“Yang kita jual ke PLN nanti 5 mW. Sisanya untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri,” katanya.

PLTSa Cempo Solo

Daya tersebut disalurkan melalui jaringan tegangan menengah 20 kV yang menghubungkan PLTSa Putri Cempo dengan Gardu PLN di Palur, Karanganyar.

“Panjangnya kurang lebih 6 km,” kata Elan.

PT SCMPP telah menandatangani Power Purchase Agreement (PPA) dengan PLN sejak akhir 2018 silam. PLN sepakat membeli listrik dari PLTSa Putri Cempo di harga 13,55 sen USD per kiloWatt (sekitar Rp2.147 dengan kurs dolar Rp15.846).

Dengan skema tersebut, Elan memperkirakan perusahaannya bisa mencapai Break Event Point (BEP) dalam 8-9 tahun.

“Itu sejak beroperasi ya. bukan sejak bangun,” katanya.

Proses pembangunan PLTSa Putri Cempo dimulai 2019 lalu dengan target beroperasi penuh akhir 2022. Pengerjaannya sempat terhenti setahun lebih karena pandemi covid-19 sehingga PLTSa Putri Cempo baru bisa operasional akhir Oktober 2023.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel