“Kita ikat dari sekarang. Dan yang jelas ini solusi bukan untuk kota solo saja tapi solusi untuk bersama ya. Bahkan Jogja nanti bisa kita tampung juga sampahnya,” katanya.
Direktur Utama PT SCMPP Elan Syuherlan mengatakan PLTSa Putri Cempo mengatakan tumpukan sampah di TPA Putri Cempo diperkirakan habis dalam 5-7 tahun tergantung kondisi yang ada. Di beberapa lokasi, ditemukan banyak sampah lama yang sudah berubah menjadi tanah sehingga tidak bisa diolah menjadi listrik.
“Tentu yang bagian bawah-bawah baru ketahuan setelah kami lihat lagi,” kata Elan.
Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sragen, Rina Wijayanti mengatakan pihaknya baru menandatangani komitmen awal untuk memasok sampah ke PLTSa Putri Cempo. Masih banyak yang harus dibicarakan jika Pemkab Sragen hendak mengirimkan sampahnya ke Solo.
“Nanti secara teknis kita tunggu isi perjanjiannya seperti apa. Kan di sana ada hak dan kewajibannya, kita pelajari dan kita kaji terlebih dulu,” katanya.
Zero Waste
PLTSa Putri Cempo diklaim tidak menghasilkan limbah alias zero waste. Sampah dari rumah tangga akan langsung dipilah secara bertahap.
Tahap pertama, sampah partikel kecil seperti tanah dan kerikil dipisahkan dari sampah-sampah lainnya. Kemudian sampah dari material beton, besi, dan kaca dipilah secara manual.
“Itu material-material yang tidak bisa kami olah. Ini nanti bisa dimanfaatkan kembali,” kata Elan.
Sampah-sampah lainnya termasuk plastik akan dikeringkan untuk kemudian diolah menjadi briket. Briket itulah yang kemudian dipanaskan dengan suhu sangat tinggi sehingga berubah menjadi gas sintetik (syngas). Gas inilah yang digunakan untuk menggerakkan mesin pembangkit listrik.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
