Ia lebih nyaman dan merasa bisa lebih fokus belajar jika setelah kuliah langsung pulang.
Menjadi mahasiswa kupu-kupu juga memiliki berbagai dampak, dampak yang paling terasa adalah tidak memiliki banyak teman seperti halnya terjadi pada orang yang lebih aktif berkegiatan.
Lingkungannya menjadi lebih kecil dan tidak punya banyak relasi.
Namun mahasiswa kupu-kupu biasanya memiliki IPK yang tinggi, hal tersebut karena memiliki waktu belajar yang lebih.
Di sisi lain ada juga istilah mahasiswa kura-kura. Yang merupakan akronim dari kuliah rapat kuliah rapat karena banyaknya organisasi yang ia ikuti selama di kampus. Bagi segelintir orang, mahasiswa kura-kura merupakan tolok ukur mahasiswa ideal. Sebab, mahasiswa tersebut dianggap memiliki kontribusi terhadap kampus, bahkan masyarakat luas.
Melalui pemahaman seperti ini, mahasiswa kura-kura mendapatkan stigma yang lebih positif daripada mahasiswa kupu-kupu karena sejalan dengan visi “agent of change”.
Meskipun demikian, belum tentu mahasiswa kura-kura lebih baik daripada mahasiswa kupu-kupu.
Tak dapat dipungkiri bahwa mahasiswa kura-kura memang memiliki kesempatan yang lebih besar dalam berjejaring atau membangun networking. Mahasiswa tipe ini juga menguasai beberapa soft skill, seperti berbicara di depan umum, mengambil keputusan, cara bekerja dalam kelompok.
Hal ini nantinya akan memudahkan mereka dalam pergaulan, bahkan dalam mencari pekerjaan di masa yang akan datang. Akan tetapi, mahasiswa kura-kura seringkali terjebak dalam toxic productivity karena manajemen diri yang kurang baik. Mereka sibuk melakukan berbagai kegiatan dengan segudang program kerja dan aksi nyata. Namun, pada akhirnya yang ia dapat bukanlah pengalaman melainkan rasa lelah berkepanjangan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






