PLTP Ulumbu Unit 1-4 (eksisting), beber Satya, pertahun 2021 hanya mampu mensuplai kebutuhan energi listrik di Manggarai sebesar 50%. Atau, 6,5 MW dari total 13,06 MW; beban/ kebutuhan listrik yang tercatat di Gardu Induk Ruteng-11,76 MW. Dan, Gardu Induk Ulumbu-1,3 MW.
“Artinya, 50% sisa kebutuhan energi listrik di Manggarai disuplai dari sistem kelistrikan Flores, yaitu terutama dari PLTMG Rangko (20 MW) di Labuan Bajo dan/ atau PLTMG Maumere (40 MW).” Jelas Satya.

Menurutnya, besar beban listrik dari masyarakat di tahun 2023 lebih besar dari tahun 2021, sementara tidak ada penambahan pembangkit listrik. Sehingga, kondisi tersebut di atas pada dasarnya mencerminkan bahwa kondisi energi listrik untuk Kabupaten Manggarai mengalami defisit yang lebih besar.
Kenapa Harus Geothermal?
Assistant Manager Perizinan dan Umum PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Proyek (UPP) Nusra 2, Lalu Irlan Jayadi pada kesempatan yang sama, yakni sosialisasi FPIC di kampung Lale, Kawasan Sekitar PLTP Ulumbu menjelaskan beberapa alasan sehingga memprioritaskan Geothermal sebagai sumber energi Utama di Flores, khususnya di Manggarai.
Demikian Irlan, sapaan akrabnya bahwa Geothermal merupakan Energi Hijau dan
Bersih, sekaligus handal. Geothermal handal karena ketersediaan energi tidak berubah.

Energi Baru Terbarukan (EBT) selain
Geothermal, jelas Irlan sangat bergantung pada musim dan cuaca. Ia mencontohkan, PLTS (Surya) bergantung ketersediaan matahari; tidak bisa diandalkan ketika malam / awan mendung.
Kemudian, PLTA (Air) bergantung ketersediaan air; tidak bisa diandalkan saat kemarau. Begitupun PLTB (Bayu/Angin) bergantung ketersediaan angin, tidak bisa diandalkan karena hembusan angin berubah-ubah setiap waktu.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







