Cepat, Lugas dan Berimbang

Pedagang Kaki Lima Berawal dari Salah Arti, Begini Kisahnya

Sementara, pedagang makanan yang dipikul atau dijajakan dengan gerobak masuk dalam kategori dagang rakyat. Kalau sekarang, PKL identik dengan pedagang apa, ya? Di Ruteng, Manggarai, PKL identik dengan pedagang ikan dan sayur mayur di Paris Ruteng.

Jadi Masalah Perkotaan Sejak Abad ke-19

Pedagang kaki lima
Suasana kegiatan jual beli PKL di utara Pasar Beringharjo pada masa silam. Terlihat deretan ruko-ruko bergaya Tionghoa (sumber : media-kitlv.nl)

Banyaknya orang yang mencari rezeki menjadi pedagang kaki lima ternyata memicu masalah sosial di jalanan kota-kota besar Nusantara kala itu. Menurut buku Jakarta Sejarah 400 Tahun karya Susan Blackburn, PKL-PKL yang ada di Batavia bikin resah pejalan kaki di trotoar karena sampai berteriak untuk meminta mereka membeli dagangannya. (Bandingkan dengan PKL di paris Ruteng dan di tempatmu).

Hal ini mendapatkan respons dari pemerintah kota Batavia dengan mengusir mereka dari jalanan. Dampaknya, banyak pribumi yang memprotesnya dengan melakukan unjuk rasa di Gemeente Road atau Dewan Kota.

“Pedagang diusir dari pinggir jalan karena di sana banyak orang Belanda yang tidak mau melihat pedagang kaki lima yang kotor,” ucap Abdoel Moeis di Dewan kota pada 1918 sebagaimana ditulis Blackburn.

Kekinian, kamu pasti sering mendengar perseteruan pedagang kaki lima dengan pemerintah kota atau kabupaten yang biasanya wakili oleh Satpol PP, kan? Alasannya juga sama, yaitu sering menganggap PKL merusak keteraturan kota.

Pedagang Kaki Lima
Upaya Paksa Penertiban PKL di Paris Ruteng oleh Satpol PP. (Foto:infopertama.com)

Namun, kalau kita amati, banyak pemerintah kota dan kabupaten yang menyediakan lahan bagi para PKL, ya? Itu kebijakan yang bagus karena bisa menjadi sentra kuliner yang justru menarik banyak orang untuk datang.***

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel