Meskipun guncangan ini mencapai intensitas skala V hingga VI MMI di Kabupaten Selayar dan merusakkan 736 rumah warga serta melukai 98 orang, peristiwa ini tercatat tidak menimbulkan korban jiwa signifikan.
Ketinggian tsunami yang terdeteksi di Tide Gauge Marapokot dan Reo pun tergolong kecil, yakni sekitar 0,07 meter.
Ancaman seismik Flores kembali membuktikan aktivitasnya pada pertengahan Agustus 2026 pagi hari. Guncangan kuat berkekuatan magnitudo 7,7 berkedalaman 15 kilometer mengguncang wilayah lepas pantai Mbay-Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
Kembali dipicu oleh mekanika Flores Back-Arc Thrust, gempa ini memicu kembalinya gelombang tsunami yang tercatat setinggi 1,61 meter di Tide Gauge Reo dan mencapai 2,68 meter di Desa Selama, Kabupaten Manggarai. Guncangan dengan intensitas maksimum VII hingga VIII MMI ini membawa dampak luas, merusakkan lebih dari 81 ribu rumah warga beserta fasilitas umum, memaksa ratusan ribu jiwa mengungsi, serta mengakibatkan 105 korban jiwa dan lebih dari seribu orang luka-luka.
Perbandingan dari ketiga peristiwa besar ini memperlihatkan karakter sumber gempa di kawasan Flores yang amat aktif, baik yang dipicu oleh sesar naik busur belakang maupun pergerakan sesar lokal.
BMKG menekankan bahwa memahami parameter serta rekam dampak dari setiap bencana masa lalu adalah kunci penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan bencana.
Sebagai langkah nyata dalam membangun ketahanan masyarakat, BMKG menggaungkan kampanye penting bernama “Siap untuk Selamat”. Langkah awal dimulai dengan mengajak setiap individu untuk mengenali potensi bahaya di sekitarnya, kemudian dilanjutkan dengan memahami secara bijak setiap informasi resmi dan peringatan dini yang dikeluarkan oleh otoritas terkait.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











