Mata Rakyat Lebih Mudah Melihat Infrastruktur daripada Kualitas Demokrasi

Cawe-cawe Presiden Jokowi untuk mendukung Gibran, mulai dari menjadi Wali Kota Solo hingga saat ini menjadi Cawapres Prabowo dianggap tidak elok dan melanggar tatanan demokrasi.

Berdasarkan teori persepsi di Psikologi Kognitif, sebenarnya persepsi kalangan bawah dan kaum elite sama-sama benar. Paling tidak hal itu benar bagi kaum mereka masing-masing.

Jika situasi kesenjangan perhatian ini terus terjadi, maka dapat diprediksi bahwa posisi hasil survei saat ini akan terus bertahan hingga akhir.

Kaum elite di Indonesia itu tidak besar; lebih banyak warga Indonesia yang tinggal di pedesaan, berpendidikan tidak sangat tinggi, serta berasal dari kelompok sosial menengah ke bawah.

Melihat demografi ini, maka perubahan dapat terjadi hanya jika ada sesuatu yang “memukau” mata kalangan bawah, yang menggerakkan mereka ke arah lain; dan hal yang “memukau” ini harus sesuatu yang nyata dan bukan asbtrak.

Pada situasi ini ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Pertama, saling menyerang persepsi kelompok lain bukanlah solusi bijak untuk menarik perhatian. Hal ini bisa jadi malah meneguhkan pilihan yang telah mereka ambil sekarang.

Kedua, money politic rentan terjadi pada kelompok yang mudah mengapresiasi sesuatu yang tampak nyata dan menyilaukan mata. Namun jika ini dilakukan, maka kedepan hanya akan menjadi bumerang bagi kelompok yang melakukannya.

Ketiga, bagi siapapun yang belum menentukan pilihan, pilihlah calon pemimpin yang Anda persepsikan akan membawa kebaikan, bukan hanya untuk Anda, tetapi juga untuk semua warga negara, bahkan bagi yang termasuk tidak mendukung pilihan Anda,

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel