Manusia Menyembah Allah, Alam Raya Bergembira Ria

Alam

Pekan Adven II
Senin, 6 Desember 2021

Yesaya 35: 1-10
Lukas 5: 17-26

Manusia menyembah dan memuji Allah, baru manusia bergembira dan bersukacita secara benar. Bila manusia tidak menyembah dan memuji Allah, manusia tidak bergembira dan bersukacita secara benar.

Dari bacaan I hari ini, sesungguhnya bukan hanya manusia bergembira dan bersukacita, tetapi juga segala ciptaan lain seperti halnya tetumbuhan dan hewan atau binatang bergembira dan bersukacita.

Nabi Yesaya melukiskan kegembiraan dan sukacita alam ciptaan itu sebagai berikut: “Padang gurun dan padang kering, padang belantara akan bersorak-sorai dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon, semarak Karmel dan Saron akan diberikan kepadanya; Orang akan melihat kemuliaan Tuhan, semarak Allah kita” (Yes 35: 1-2).

Kegembiraan dan sukacitanya alam ciptaan tidak lahir dari tindakan penyembahan dan pemujian terhadap Allah seperti dilakukan manusia, tetapi muncul dari keberadaan dan kehadirannya sebagai makhluk ciptaan.

Hal ini berarti ketika alam ciptaan hadir dan berada di dunia ini, alam ciptaan itu seperti ‘padang gurun dan padang kering bergirang, padang belantara dan bunga mawar bergembira dan bersukacita.

Intinya, alam ciptaan dengan segala isinya bergembira dan bersukacita karena naturanya atau karena ‘dari sananya begitu’. Tetapi lebih daripada alam ciptaan lain, manusia tidak hanya bergembira dan bersukacita, tetapi juga menyembah dan memuji Allah.

Sebab itu janganlah kita cenderung untuk melenyapkan atau memusnahkan alam ciptaan lain karena kerakusan manusiawi kita. Kegembiraan manusia akan berkurang bila alam ciptaan dirusakkan, dihancurkan dan dilenyapkan dari muka bumi ini.

Lebih dari semua ciptaan lain di bumi ini, kita sebagai manusia tidak hanya bergembira dan bersukacita, tetapi juga kita mesti menyembah dan memuji Allah.

Kegembiraan dan sukacita yang penuh dan sempurna lahir dari sikap dan tindakan iman dalam menyembah dan memuji Allah. “Bangunlah, Pujilah Tuhan Allahmu dari selama-lamanya sampai selama-lamanya! Terpujilah nama-Mu yang mulia, yang ditinggikan mengatasi segala puji dan hormat!” (Neh 9: 5).

Tanpa sikap dan tindakan menyembah Allah dan memuji DIA, kegembiraan dan sukacita hidup kita tidak lengkap dan sempurna. Tetapi hanya bila kita menyembah dan memuji Allah, kita akan bergembira dan bersukacita secara penuh dan sempurna.

Maka marilah kita menyembah dan memuji Allah agar kita mencapai dan mengalami kegembiraan yang sejati, penuh dan utuh dalam hidup.

Doaku dan berkat Tuhan
Mgr Hubertus Leteng.

error: Sorry Bro, Anda Terekam CCTV