Menyadari kekayaan potensi daerahnya –Kampung Kamojang berada di ketinggian 1.500 mdpl– anggota KWT Rengganis 76 pun mengembangkan usahanya ke jasa pariwisata. “Ke depannya, kami juga akan membuka jasa wisata edukasi,” pungkas Yeti.
Senada dengan Yeti, Dede Sutisna, warga Kamojang, mengakui dampak positif kehadiran PLTP di wilayahnya. Melalui UMKM Bina Panas Bumi, Dede mendapatkan banyak dukungan dari PT Indonesia Power Kamojang mulai dari pembinaan, pelatihan, hingga permodalan dan bantuan peralatan.
“Kerjasama kami dimulai sejak 2009. Awalnya budidaya jamur, kemudian dikembangkan dalam macam-macam produk turunan: keripik, sate, hingga baso jamur. Dari hulu ke hilir, kami dibantu,” ungkap Dede kepada reporter tirto.id, Sabtu (25/1/2025).
Saat ini, UMKM yang Dede kelola bisa menghasilkan 50-100 kg keripik jamur sekali produksi. Keripik itu kemudian dijual langsung ke wisatawan yang berkunjung ke kawah Kamojang atau dititip ke toko oleh-oleh. Alat produksi, vacuum frying, juga didapat Dede dari PT Indonesia Power Kamojang.
“Alat ini juga kami gunakan membuat tape krispi. Tape kan lembek, tapi dengan vacuum frying bisa dibikin renyah. Ini alat yang sama dengan yang digunakan teman-teman di Malang dalam membuat keripik apel,” terang Dede.
Propaganda Negatif PLTP Tak Laku
Disinggung soal dampak buruk panas buni, Dede menggelengkan kepala. “Seumur-umur saya menjadi orang sini, saya tidak merasakan dampak buruk apa pun. Aktivitas pemanfaatan uap panas bumi di Kamojang sendiri berlangsung sejak 1928. Selama itu pula kehidupan kami di sini baik-baik saja. Sekarang, usia saya 46 tahun,” kata Dede.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











