Cepat, Lugas dan Berimbang

Kisah Pemanfaatan Panas Bumi dan Semangat Warga Kamojang

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang yang berlokasi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. FOTO/Istimewa

“Baru saja, tahun lalu, kami mendapatkan pelatihan roasting kopi. Dari kelompok tani kami, dikirim tiga orang ke Yogyakarta,” ujar Sudarman, ketua KTH Kamojang Desa Laksana.

Seiring pengetahuan yang bertambah, harga kopi buatan mereka juga ikut naik. Dulu, sebelum paham mengenai tata kelola dan tata niaga kopi, harga biji kopi mereka hanya dibeli Rp5.000 per kilogram oleh para tengkulak. Sekarang, harga biji kopi mereka mencapai Rp120 ribu per kilogram.

Yang menarik lagi, KTH ini juga mendapat ilmu pemanfaatan limbah kopi. Setiap tahun, ujar Darman, ada limbah kopi seberat 9 ton. Awalnya limbah ini dibiarkan saja, ditaruh di tanah hingga terurai. Mereka tak sadar kalau limbah itu bisa dijadikan produk bernilai ekonomi.

Ambil contohnya, hand sanitizer dan desinfektan kopi. Produk mereka laris manis. Omzetnya ketika itu mencapai Rp17 juta per tahun. Bukan angka yang fantastis, memang, tapi ini adalah bukti keberhasilan pemanfaatan limbah yang awalnya tak berharga.

Tak hanya itu, para anggota KTH ini juga membuat cookies dari limbah kopi, yang bisa menghasilkan omzet hingga Rp21 juta, pelet ikan dengan omzet Rp2,4 juta, dan juga teh celup dengan omzet Rp26 juta per tahun.

“Ini tentu peningkatan. Dulu, di desa kami kopi itu cuma dipakai sebagai tanaman penghijau. Karena murah, biji kopi merah itu gak dipetik. Sekarang jadi sumber ekonomi untuk warga sekitar,” kata Darman.

Saat ini, di tengah perkembangan industri kopi, Darman masih punya cita-cita panjang. Dalam bayangannya, kegiatan ekonomi di desanya harus seperti siklus. Dalam hal ini, ia membayangkan ada peternakan domba. Dari sana, kotorannya bisa diolah menjadi pupuk organik untuk perkebunan kopi.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN