Bertumbuh dalam Keutamaan Seorang Hamba yang Rendah Hati

Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya dengan sangat indah melukiskan mengenai ketaatan Hamba Tuhan. Seorang hamba yang memiliki LIDAH SEORANG MURID, supaya dengan lidah keluarlah kata-kata berkat yang dapat membangkitkan semangat baru bagi orang yang letih lesu.

Selain memiliki lidah seorang murid, PENDENGARAN YANG TAJAM. Agar dapat memiliki pendengaran yang tajam, seseorang harus memiliki KEHENINGAN di dalam dirinya. Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi, memperlihatkan kepada kita mengenai KERENDAHAN HATI YESUS. YESUS tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan.

Kerendahan hati YESUS nampak ketika Ia mulai mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia.

Dalam bacaan Injil, Matius mengisahkan tentang Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus mulai dari persiapan perjamuan malam terakhir sampai wafatNya di atas kayu salib.

Sebelum menderita, Yesus mengadakan perjamuan bersama para muridNya. Ketika waktu penderitaan semakin dekat, Yesus mengajak tiga orang muridNya untuk menemaniNya pergi berdoa di taman Getsemani. Di atas kayu salib, Yesus, sebelum wafatNya, Ia berdoa kepada BapaNya. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya.

Marilah kita, saudara/I yang terkasih, memaknai peristiwa hari ini dengan hidup dalam keutamaan sebagai seorang hamba, hidup dalam KETAATAN kita sebagai anak-anak Allah yang setia mendengarkan Sabda Allah, hidup dalam semangat kerendahan hati, tidak saling curiga, sombong, iri hati, cemburu dan mementingkan diri sendiri daripada orang lain sehingga mampu mengekang lidah untuk bergosip dan menceritakan kelemahan orang lain; hidup dalam semangat doa, membiarkan doa menjiwai seluruh hidup kita, sehingga kita sungguh mengalami Allah di dalam hidup kita, dan hidup dalam semangat penyerahan diri. Berani mati demi cinta kepada Yesus, menyerahkan nyawa demi Yesus.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel