Keterbatasan SDM, Pemkab Manggarai Kewalahan Tangani Trauma Penyintas Gempa NTT

Ia pun mengkhawatirkan risiko munculnya keputusasaan berat hingga potensi tindakan nekat seperti bunuh diri di kalangan pengungsi lansia jika tidak segera ditangani secara tepat.

“Hal ini tentu saja butuh penanganan khusus oleh orang yang profesional,” tambahnya.

Atas kondisi tersebut, Pemkab Manggarai berharap adanya percepatan dan penguatan dukungan dari pemerintah pusat, akademisi, organisasi kemanusiaan, serta relawan profesional untuk mendampingi seluruh lapisan penyintas.

Ribuan Warga Masih Bertahan di Pengungsian

Memasuki bulan kedua pascagempa Agustus 2026, ribuan warga Manggarai dicatat masih belum bisa kembali ke rumah mereka. Berdasarkan pendataan Pemkab Manggarai, total penyintas yang masih berada di lokasi pengungsian mencapai 8.392 jiwa. Sebanyak 1.301 warga di antaranya bertahan di 17 posko pengungsian terpadu, sementara 7.091 warga lainnya memilih mengungsi secara mandiri di kediaman kerabat maupun kerabat terdekat.

Dari total pengungsi tersebut, terdapat 1.054 warga yang tergolong kelompok rentan dan membutuhkan penanganan ekstra serta perhatian khusus. Kelompok rentan ini mencakup 335 anak-anak, 267 balita, 265 warga lanjut usia, serta 55 penyandang disabilitas.

Besarnya jumlah warga yang masih bertahan di pengungsian mempertegas mendesaknya pemenuhan kebutuhan dasar serta pendampingan pemulihan trauma secara terpadu di Kabupaten Manggarai.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel