Ketangguhan Itu Ditanam: Bertani Tanpa Menunggu Musim di Wari Keo

Dari sisi akademik, peneliti Undana Kupang, Damianus Adar, menyatakan bahwa petani Manggarai “belum berorientasi bisnis” dan belum memiliki minat menjadi pengusaha hortikultura (Labuan Bajo News, 14 Juli 2024). Bahkan untuk sayuran bergizi, menurut Siti Zaini, pedagang Pasar Batu Cermin, pasokan masih harus didatangkan dari NTB dan Makassar (Victory News, 24 Oktober 2022).

Paradoksnya jelas: pasar besar tersedia dan terus tumbuh, tetapi peluang belum sepenuhnya ditangkap oleh petani lokal.

Menanam Cara Pandang Baru

Apa yang ditunjukkan petani Wari Keo sejalan dengan pandangan banyak ahli. Psikolog Angela Duckworth menyebut keberhasilan jangka panjang ditentukan oleh grit—kegigihan dan komitmen jangka panjang. Peter Drucker menegaskan bahwa bisnis bukan tentang menghindari risiko, melainkan mengelola ketidakpastian. Prof. Bungaran Saragih juga menekankan pentingnya transformasi petani menjadi petani wirausaha.

Menurut Diffusion of Innovation Theory dari Everett Rogers, perubahan akan lebih cepat terjadi jika petani belajar langsung dari figur teladan. Dalam konteks ini, praktik lejong atau studi banding yang difasilitasi Yayasan AYO Indonesia menjadi sarana penting mempercepat perubahan cara pandang dan pengetahuan.

Rikhardus, Manajer Program Yayasan AYO Indonesia, menegaskan bahwa keterbatasan air, musim hujan, bahkan usia bukan penghalang utama. “Yang menentukan adalah mental kewirausahaan dan keberanian menjadikan pertanian sebagai bisnis,” ujarnya.

Nendik dan Venan pulang dari Wari Keo dengan keyakinan baru: pasar tersedia, teladan nyata sudah ada, dan alasan untuk tidak menanam semakin kehilangan dasar.

Laman: 1 2 3 4 5

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses