Bahkan di musim hujan dengan suhu dingin dan kabut tebal, petani Wari Keo tetap menanam sayuran daun. Risiko penyakit dan gagal panen disadari, tetapi peluang harga yang lebih baik membuat mereka tetap melangkah.
Konsistensi di Tengah Tantangan Pasar
Selain Getris, peserta juga berdialog dengan Petrus, petani yang mengelola lahan sekitar 0,5 hektar sebagai sumber utama penghidupan keluarganya. Ia terbuka tentang tantangan fluktuasi harga dan pembeli yang tidak selalu menepati komitmen.
Namun bagi Petrus, tantangan tersebut bukan alasan untuk berhenti. Ia memilih menjaga relasi dengan pembeli besar yang menyalurkan sayuran ke berbagai pasar di Flores. Baginya, kepercayaan dibangun lewat konsistensi: tetap menanam, tetap memenuhi pesanan, dan tetap hadir meski kondisi tidak selalu menguntungkan.
Pasar Besar yang Belum Digarap
Kisah Wari Keo menjadi kontras dengan kondisi agribisnis Manggarai secara umum. Sejumlah media daring menunjukkan bahwa lemahnya pertanian sayuran bukan disebabkan ketiadaan pasar, melainkan belum berkembangnya mentalitas kewirausahaan petani.
Victory News Manggarai Barat (20 Mei 2022) melaporkan bahwa sebagian besar sayuran di pasar-pasar Labuan Bajo masih didatangkan dari Denpasar, Sulawesi Selatan, dan Kabupaten Ngada. Arsenius Juniagu, pedagang Pasar Puni, kepada Floresa (10 Juni 2024) menyebut pasokan sayur lokal “masih sangat terbatas”.
Ketergantungan ini juga terjadi pada sektor pariwisata. Kepala BRIDA Manggarai Barat, Tarsisius Gonza, menegaskan bahwa hotel dan restoran di Labuan Bajo masih bergantung pada pasokan hortikultura dari luar daerah (Labuan Bajo News, 11 Juli 2024).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

Tinggalkan Balasan