Selain menghadirkan pengalaman perjalanan yang reflektif, sehat, dan bermakna, kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan jalur wisata tematik yang menghubungkan berbagai destinasi, situs religi, serta atraksi budaya.
Dalam “Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores”, sebanyak 70 peserta dari komunitas kreatif akan berjalan kaki sejauh sekitar 70 kilometer melintasi berbagai lokasi di Pulau Flores. Di sela perjalanan, para peserta akan mengunjungi gereja, kampung adat, dan situs budaya; mencicipi kuliner lokal; berinteraksi langsung dengan warga; serta menikmati keindahan alam Flores.
“Mulai dari Bajawa dan ujungnya selesai di Ende, melintasi tiga kabupaten, yakni Ngada, Nagekeo, dan Ende,” terang Mari.
Program yang terinspirasi dari konsep ziarah “Camino de Santiago” di Spanyol ini diharapkan mampu menampilkan Pulau Flores sebagai salah satu tujuan perjalanan bernilai spiritual dan budaya.
Selain itu, penyelenggara “Camino de Flores” juga akan menggalang dana guna membantu pembangunan kembali wilayah Flores yang terdampak gempa bumi pada Agustus 2026.
“Kami ingin menghubungkan pengembangan pariwisata, membantu masyarakat bangkit sekaligus membangun fondasi bagi pariwisata Flores yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berbasis masyarakat,” tambahnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











