Jadilah Orang yang baik di tengah yang Jahat

Orang yang baik
Tangkapan layar film Joker yang terkenal dengan diksi "orang jahat adalah orang baik yang tersakiti". (ist)

Pw Sto Yohanes dari Salib, Imam & Pujangga Gereja
Selasa, 14 Desember 2021

Zefanya 3: 1-2.9-13; Matius 21: 28-32

Dalam kehidupan bersama selalu ada orang yang baik dan yang jahat. Bahkan dalam diri kita sendiri ada hal yang baik dan ada hal yang jahat. Dalam bacaan I, Tuhan sendiri berkata: “Celakalah si pemberontak dan si cemar, kota yang penuh penindasan! Ia tidak mau mendengarkan teguran siapa pun dan tidak memedulikan kecaman. Ia tidak percaya kepada Tuhan dan tidak menghadap Allahnya. Tetapi Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya mereka sekalian menyerukan nama Tuhan dan bersama-sama beribadah kepada-Nya” (Zef 3: 1-2.9).

Dari sabda Tuhan ini, pada satu sisi ada manusia pemberontak, pencemar, tidak mendengarkan teguran dan kecaman. Bahkan manusia tipe ini tidak percaya kepada Tuhan dan tidak menghadap Allah. Ini tipe manusia yang jahat dan yang tidak berkenan kepada Tuhan dan kepada sesama. Manusia tipe ini sombong dan angkuh, tidak peduli Tuhan dan sesama.

Pada sisi lain, ada manusia yang bibirnya bersih, berseru kepada nama Tuhan dan beribadah kepada-Nya. Tipe manusia ini tidak angkuh, congkak atau sombong, tetapi rendah hati dan lemah serta mencari perlindungan pada nama Tuhan. Inilah tipe manusia yang baik dan berkenan kepada Tuhan dan kepada sesama.

Lebih istimewa lagi, tipe manusia yang baik dan berkenan ini diberikan atau ditempatkan oleh Tuhan di tengah orang yang jahat, sombong dan angkuh dan pemberontak dan penindasan.

Dari dua tipe manusia ini, kita sendiri masuk yang mana? Kita bebas dan memiliki kebebasan untuk menjadi tipe apa saja, entah menjadi orang yang jahat atau orang yang baik dengan risikonya masing-masing. Risiko dari pilihan menjadi orang yang jahat adalah kecelakaan. Risiko dari pilihan menjadi orang yang baik adalah keselamatan.

Silahkan kita memilih menurut kebebasan kita. Tetapi bila kita mau hidup dan menghidupi orang lain, kebebasan kita mesti memihak hanya yang baik dan hanya memilih menjadi orang yang baik dan berkenan kepada Tuhan dan sesama. Kita mesti memilih yang baik karena kebaikan itu adalah ciptaan Allah dan pemberian Tuhan untuk kehidupan manusia.

Sedangkan kejahatan adalah ciptaan dan perbuatan manusia yang berujung pada kecelakaan dan kehancuran.

Maka marilah kita menghormati dan menghargai kebebasan kita sendiri dan kebebasan orang lain dengan menyadari risikonya masing-masing.

Siapa mau mendapat kecelakaan, pilihlah menjadi orang yang jahat! Tetapi siapa mau mendapat keselamatan, pilihlah menjadi orang yang baik!

Doaku dan berkat Tuhan
Mgr Hubertus Leteng

error: Sorry Bro, Anda Terekam CCTV