“Kekuasaan tidak akan bertahan lama… Kekuasaan akan berakhir, apa pun posisi Anda saat ini.”
Ketidakhadiran Joko Widodo dalam perayaan HUT ke-51 PDI-P menandai pertama kalinya ia melewatkan pertemuan tersebut sejak ia menjadi presiden pada tahun 2014.
Megawati mengaku hanya mengundang mereka yang bersedia hadir di sana. Ia menyambut para menteri dari kabinet Joko Widodo yang hadir, termasuk Wakil Presiden Ma’ruf Amin.
Turut hadir dalam acara tersebut adalah calon presiden dari PDIP, Ganjar Pranowo. Mantan Gubernur Jawa Tengah ini disebut-sebut sebagai kandidat favorit pada awal tahun lalu. Dan, partai tersebut memperkirakan bahwa Joko Widodo – yang memiliki tingkat dukungan publik yang tinggi – akan mendukung Ganjar.
Namun setelah putra tertua Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, memilih untuk bergandengan dengan Prabowo – yang mencalonkan diri untuk Partai Gerindra sebagai bagian dari Koalisi Indonesia Maju (Indonesia Maju) – menjadi jelas bahwa Joko Widodo akan mendukung kandidat saingannya.
Analis Alexander R. Arifianto mengatakan ketidakhadiran Joko Widodo di acara tahunan PDIP dan dukungannya terhadap calon presiden saingannya menandakan perbedaan yang tidak dapat didamaikan antara presiden dan Megawati.
“Ketidakhadiran Jokowi menandakan betapa buruknya hubungan antara Jokowi dan Megawati selama setahun terakhir,” katanya.
“Meskipun PDIP secara formal masih menjadi bagian dari koalisi presiden, hubungan antara kedua pemimpin saat ini hampir tidak ada lagi,” tambah Arifianto, peneliti senior di program Indonesia di S. Rajaratnam School of International Studies.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







