Ia menegaskan, pengukuhan tersebut bukan hanya pencapaian akademik personal, tetapi juga menjadi penanda penting perjalanan intelektual NTT yang mampu melahirkan pemikiran-pemikiran berdaya saing nasional maupun global. Dalam pidatonya, Gubernur juga menyoroti tema sidang ilmiah, yakni “Menavigasi Ketidakpastian: Integrasi Nilai Iman dan Kecerdasan Logis yang Menggembirakan”.
Menurutnya, tema tersebut sangat relevan dengan tantangan zaman yang ditandai perubahan sosial cepat, disrupsi teknologi, hingga krisis nilai dan pendidikan.
“Di tengah ketidakpastian itu, kita diingatkan bahwa ada dua kekuatan besar yang dapat menjadi penuntun: iman yang memberi makna, dan kecerdasan logis yang memberi arah,” katanya.
Gubernur Melki Laka Lena juga memberikan perhatian khusus terhadap kiprah akademik Prof. Maksimus Regus dalam bidang sosiologi agama dan multikulturalisme. Ia menyebut pemikiran Prof. Maksimus tentang keberagaman, keadilan sosial, dan kemanusiaan menjadi kontribusi penting bagi pembangunan masyarakat yang inklusif dan berkeadaban.
“Pemikiran beliau tentang Gereja sebagai kekuatan sosial profetik mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti pada teori. Ilmu harus hadir dalam kehidupan nyata—membela martabat manusia, memperjuangkan keadilan sosial, dan memberi perhatian kepada masyarakat kecil serta kelompok pinggiran,” ungkapnya.
Sementara itu, terhadap Prof. Sabina Ndiung, Gubernur menilai kontribusinya dalam pengembangan etnopedagogi dan etnomatematika berbasis budaya lokal sangat penting bagi dunia pendidikan. Pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan budaya lokal dinilai mampu memperkuat identitas, karakter, serta meningkatkan kualitas pembelajaran peserta didik.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







