Cepat, Lugas dan Berimbang

Geothermal Ulumbu: Pemanfaatan Teknologi Mengikuti Reaksi Alam

Ia mengatakan, dari sudut geopoitik, Ulumbu memiliki potensi energi panas bumi secara  alamiah bereaksi secara berabad-abad dirasakan  masih eksis sampai saat ini. Dan, tidak ada dampak buruk bagi manusia dan alam sekitarnya. Ulumbu selalu berhubungan dengan gendang-gendang (warga kampung). 

Dari sudut geologi, topografi Ulumbu berada di dataran (bukit) dan masih jauh dari ketinggian gunung sekitarnya sebagai sumber mata air yang utama, misalnya Golo Lusang.

Keberadaan Ulumbu, kata dia, selama ini tidak berdampak pada macetnya sumber mata air di pegunungan yang lebih tinggi, karena keberadaan Ulumbu di dataran rendah (lereng/bukit). Panas bumi Ulumbu selalu tersalur dan teresap karena sifat air selalu mencari tempat yang lebih rendah.

“Oleh karena itu, jika ada kebijakan Geothermal Ulumbu menurut saya kemungkinan besar tidak berisiko semburan lumpur, karena panas bumi yang ditimbulkan oleh Ulumbu selalu tersalur ke tempat rendah.”

Beda halnya kasus Lumpur Lapindo di Sidoardjo, Jawa Timur. “Menurut saya semburan lumpur Lapindo terjadi, karena kondisi geologi, topografi tanahnya datar, dan dekat dengan permukaan air laut, sehingga penyaluran air/gas bumi tidak lancar, dan tentu berdampak pada semburan (luapan air/gas bumi).

“Dan di samping itu, Lapindo – Sidoardjo, adalah disebabkan tehnologi yang mengolah alam. Sementara di Ulumbu adalah reaksi alamiah yang berabad-abad, dan teknologi melalui kebijakan Geothermal hanya mengikuti reaksi alamiah Ulumbu.”

Ia menambahkan, berkaitan dengan pemahaman tempus dalam hukum administrasi negara relevan dengan pemahaman konsep tata ruang budaya Manggarai di bawah payung filosofi kebudayaan, gendang one lingko pe’ang. Dari segi tempus bahwa keberadaan gendang – gendang adalah berkaitan dengan waktu perjalanan sejarah keberadaan lingko (tanah ulayat) yang termasuk di dalamnya adalah lokasi Ulumbu.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN