Kasirun menegaskan bahwa PLN siap berpartisipasi dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat terdampak melalui program-program CSR.
“Ada potensi yang dapat meningkatkan perekonomian warga terdampak. Kami mencanangkan penguatan budidaya pertanian kacang dan tanaman biofarmaka sebab banyak yang bisa dilakukan,” kata Kasirun.
Senada dengan Kasirun, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Pembebasan Tanah PLTP Atadei sekaligus Plt Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Donatus Lajar, menekankan Lembata harus menjadi tuan rumah di rumah sendiri, dalam hal ini sektor pertanian.
“Kita punya tanah yang bisa menghasilkan. Dan, sekarang ada pendampingan dari PLN. Ketika PLN masuk ke Lembata, lingkungan tetap dipertahankan, manusianya juga tetap hidup dan terlindungi,” ujar Donatus lajar.
Donatus Lajar juga meminta warga untuk melibatkan para penyuluh pertanian yang ada di wilayah masing-masing untuk membantu mengatasi berbagai kesulitan selama budidaya kacang tanah dan tanaman biofarmaka berlangsung.
“Tolong buatkan plan bisnis dalam budidaya kali ini agar tidak selesai untuk konsumsi pribadi saja, tetapi harus bisa menghasilkan keuntungan ekonomis. Jangan berhenti sampai di tanam dan panen, tetapi penting merencanakan penjualan secara baik,” ucap Lajar.
Sementara itu, Koordinator Program Yayasan PAPHA Indonesia, Paul Dolu, optimis melalui program ini kemandirian pertanian Lembata dapat terwujud sehingga mampu menumbuhkan kesejahteraan bagi kelompok tani maupun masyarakat terdampak secara umum.
“Karena itu, kami memandang penting melakukan penguatan ekonomi petani terdampak proyek geothermal Atadei melalui budidaya kacang tanah dan tanaman biofarmaka. Kami bermimpi suatu ketika kacang tanah dan tanaman biofarmaka menjadi ikon karena pengembangan dari hulu hingga ke hilir,” ujar Paul Dolu.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan