Baca Juga: Untuk Meracik Kopi, Gubernur NTT Biayai Siswa SMK Sadar Wisata ke Luar Negeri
“Festival tahun ini berbeda karena melibatkan partisipasi lebih luas dan menghadirkan cerita rakyat serta seni lokal yang memperkuat identitas budaya,” ungkap Chresentia.
UMKM Tumbuh Bersama Semangat Persaudaraan
Sektor ekonomi kreatif menjadi bagian tak terpisahkan dari festival ini. Ketua Seksi UMKM, Sony Juru, menjelaskan bahwa sebanyak 19 UMKM terlibat, termasuk dari lintas wilayah seperti Ruteng, dan dari komunitas lintas agama.
“Tahun ini UMKM berkembang pesat, tidak hanya dari sisi jumlah tapi juga ragam produknya. Ada kuliner, jamu tradisional, hingga kerajinan tangan,” jelas Sony.
Baca Juga: Pengembangan PLTP Poco Leok
Ia menekankan bahwa festival bukan ajang mencari keuntungan, tetapi sarana mendorong pengembangan UMKM di Lembor.
“Kami hanya ambil 10 persen dari hasil penjualan untuk panitia. Tujuan utama kami adalah mendukung pelaku usaha mikro” tutupnya.
Apresiasi dari Pelaku UMKM
Salah satu peserta UMKM dari Ruteng, Ricard Jundu, menyampaikan rasa terima kasih atas keterlibatan mereka dalam festival ini.
Ia menilai gereja telah memberikan ruang nyata untuk pemberdayaan ekonomi dan pengembangan bakat kaum muda.
“Kami bersyukur diundang ke festival ini. Selain mendukung UMKM, kegiatan ini juga memberi panggung bagi anak-anak dan OMK untuk berekspresi melalui seni,” jelas Richard.
Merayakan Iman, Budaya, dan Kebersamaan
Festival Budaya dan Religi Santa Familia Wae Nakeng 2025 menjadi cerminan keberhasilan sinergi antara gereja, masyarakat, pelaku UMKM, dan lintas agama.
Semua pihak bersatu dalam semangat kebersamaan untuk merayakan iman dan budaya lokal secara harmonis.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
