Dulu Jual Wajah Jokowi, Kini AHP Bungkam Soal KKB: Pemuda NTT Sebut Keji dan Oportunis

Menolak Kunjungan Jokowi ke NTT: Pernyataan Keji dan Hipokrit

Ketegangan makin memuncak saat AHP melontarkan komentar keras menolak rencana kunjungan Jokowi ke NTT. AHP secara tegas menyebut kunjungan tersebut “tidak layak” dilakukan di tengah polemik tudingan ijazah, dengan dalih dapat memberikan contoh buruk bagi anak muda di NTT.

Sikap AHP ini dinilai publik sangat keji dan hipokrit. Bagaimana mungkin seorang anggota DPR RI menolak kehadiran figur yang dicintai masyarakatnya sendiri, hanya demi menyuarakan narasi politik kekuasaan? Publik menangkap sinyal kuat bahwa AHP lebih takut kehilangan panggung di mata elit partainya ketimbang mendengar aspirasi rakyat NTT di akar rumput.

Bungkam Saat Nyawa Rakyat Terancam KKB Papua

Sikap vokal AHP mengenai isu ijazah Jokowi sangat bertolak belakang dengan kebungkamannya atas tragedi kemanusiaan yang melukai NTT. Ketika putra-putri terbaik NTT gugur secara tragis dibunuh oleh KKB di Papua—termasuk almarhum Dokter Alfon yang berasal dari daerah kelahiran AHP sendiri di Kabupaten Sikka—AHP justru diam seribu bahasa.

Sebagai legislator yang menduduki posisi strategis di Komisi XIII DPR RI dengan lingkup tugas Hak Asasi Manusia (HAM), AHP dinilai gagal total menjalankan fungsinya. Tidak ada ucapan duka, tidak ada kecaman atas pelanggaran HAM berat yang menimpa warga NTT, apalagi pembelaan nyata bagi para korban.

Kontras terjadi saat Presiden Jokowi justru hadir langsung melayat ke rumah duka almarhum Dokter Alfon di Kabupaten Sikka untuk menyampaikan belasungkawa dan menguatkan keluarga korban.

Pura-Pura NTT Demi Jabatan dan Partai

“Pak Jokowi yang berasal dari Solo bisa datang langsung ke Kabupaten Sikka untuk melayat, sementara Anda selaku putra asli Sikka dan anggota DPR RI dari NTT ke mana?” sindir Shiwa Pemuda NTT dalam kritiknya.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel