infopertama.com – Sorotan tajam publik Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali tertuju pada politisi PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira (AHP). Kritik pedas dan kecaman keras terus mengalir dari masyarakat, khususnya generasi muda NTT, yang menilai wakil rakyat tersebut lebih disibukkan oleh manuver politik partisan ketimbang memperjuangkan nasib dan keselamatan rakyat di daerah pemilihannya.
Gelombang kekecewaan masyarakat NTT memuncak setelah beredarnya video kritik terbuka dari Shiwa, seorang pemuda NTT yang secara menohok mempertanyakan integritas dan keberadaan AHP di kursi DPR RI. Di tengah gempuran tragedi kemanusiaan yang menimpa warga NTT akibat aksi kejam Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua, AHP dinilai hilang bagai “siluman” tanpa sikap tegas maupun kepedulian nyata.
Dulu ‘Jual’ Wajah Jokowi Besar-Besar, Kini Serang Tanpa Etika
Masyarakat NTT, khususnya para pemilih di Daerah Pemilihan Flores, Lembata, dan Alor (Florata), tentu belum lupa pada perhelatan Pemilu lalu. Kala itu, baliho dan alat peraga kampanye AHP bertebaran di pelosok desa hingga kota. Hal yang paling mencolok: wajah Joko Widodo (Jokowi) dipampang sangat besar, bahkan jauh lebih besar dari wajah AHP sendiri.
Saat itu, AHP dengan bangga “menjual” figur Jokowi sebagai kader terbaik PDI Perjuangan dan Presiden RI guna meraup simpati serta suara rakyat NTT yang dikenal sangat mencintai Jokowi.
Namun roda politik berputar, dan oportunisme dinilai memperlihatkan wajah aslinya. Begitu berada di atas panggung kekuasaan, AHP justru berbalik arah menyerang dan menjelek-jelekkan sosok yang dulu ditumpangi popularitasnya. Publik menilai perubahan drastis ini bukan bentuk sikap kritis yang sehat, melainkan manifestasi dari kebiasaan “menjilat” demi kepentingan pragmatis partai dan jabatan semata.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel









