Cepat, Lugas dan Berimbang

Diaspora Tato yang Ubiquitas

Trendi dan Fashionable

Perilaku dan gaya keseharian kaum bertato dengan berbagai atribut lain yang dikenakan mewakili kebudayaan suatu kelompok masyarakat. Dimana simbol-simbol yang disandang tersebut merefleksikan kehidupan di dalamnya.

Chamberlain (Olong, 2006) mengatakan bahwa salah satu penyebab diterimanya budaya pop di kalangan jugend karena jugend dipandang mewadahi kebebasan berekspresi. Demikian bahwa “satu-satunya bentuk kebudayaan yang masih dipedulikan oleh jugend yang mau menerima ide-ide radikal, yang banyak berperan penting dalam perilaku sosial untuk generasi muda. Segala yang mengalir lewat musik punk, rock and rool seperti fesyen (fashion), bahasa gaul, perilaku seksual, mabuk dan gaya lainnya.

Sebelum tato dianggap sebagai sesuatu yang modis, trendi dan fashionable seperti sekarang ini, gaya tersebut memang dekat dengan gaya pemberontakan. Anggapan negatif masyarakat tentang gaya di atas seakan semakin diperkuat dengan berbagai larangan agama terhadap tato. Karenanya, menggunakan tato sama dengan memberontak terhadap tatanan nilai sosial yang ada. Dan, akan dianggap sebagai tindakan yang devian.

Hal-hal yang dianggap deviasi oleh institusi baik agama, masyarakat, maupun pendidikan tersebut, menurut Djalalludin Rahmat (Sutrisno, 1999), deviasi itu bagaikan proses ketika individu masuk thong thai chio (toilet). Hidung individu akan tersentak oleh bau yang tak sedap, namun lama-lama toh individu tidak merasakannya lagi. Itu karena individu tersebut mampu beradaptasi dengan keberadaan bau tersebut. Lama-kelamaan tato sebagai sesuatu yang devian akan menjadi pemafhuman dalam masyarakat seiring dengan kencangnya arus informasi dan globalisasi yang terjadi. Namun pada kenyataannya masih sangat banyak mayarakat yang belum dapat menerima kenyataan tato sebagai sebuah budaya pop. Hal ini sangat besar dipengaruhi oleh tingkat pemahaman masyarakat yang mungkin sangat fanatik terhadap suatu ideologi yang memandang tato sebagai hal yang buruk, haram dan tidak boleh. Media-media pendukung penyebaran informasi juga tidak sepenuhnya dapat menjangkaui masyarakat, terutama masyarakat pedalaman.

Penulis: RJ Pangul (Ringkasan Skripsi Kebermaknaan Hidup Mahasiswa Bertato)

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel