Diaspora Tato yang Ubiquitas

Tato
Perempuan yang menghiasi tubuhnya dengan Tato. Foto Kolase oleh infopertama.com

Sepanjang hayatnya, manusia tidaklah hidup dengan tubuh alamiahnya an sich. Manusia selalu memunyai dan menunjukkan ide, kreativitas, rasa estetik hingga rasa kemanusiaannya sepanjang peradaban. Manusia dapat lakukan dengan menambah, mengurangi, mengubah bahkan mengatur bagian tubuh alamiahnya. Tindakan tersebut (tato) dapat dilakukan oleh individu, kelompok komunal, hingga negara, seperti yang dilakukan oleh Bangsa Yunani pada masa peperangan.

Simbol atau Sandi

Bangsa Yunani menggunakan tato pada para prajurit sebagai sandi antara mata-mata. Bangsa Romawi membubuhkan tato pada kriminal dan budak (Olong, 2006), baik secara sukarela, wajib bahkan terpaksa. Pengubahan yang manusia lakukan pada tubuhnya memunyai tujuan beranekamacam, berubah dari masa ke masa serta berbeda dari area budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Bagian-bagian tubuh dapat ditato, ditindik (pierced), dicukur, diolesi minyak, diberi parfum, dibersihkan maupun dikotori.

Pada kalangan intelektual seperti mahasiswa, sindrom ketertarikan terhadap tato juga sangat tinggi. Ketertarikan ini tentu beralasan mulai dari sekedar ikut-ikutan, petualangan, bakat, fashion hingga sebagai sebuah ekspresi seni. Pada kalangan mahasiswa sebagai kaum intelek dan calon pendidik keputusan untuk bertato bukanlah sebuah perkara yang mudah. Mengingat bahwa tuntutan sebagai seorang pendidik untuk menjadi contoh atau model bagi peserta didiknya masih sangat tinggi. Selain itu, persyaratan untuk menjadi pegawai negeri sipil atau pejabat pemerintah juga harus bebas dari hal-hal negatif termasuk tato masih tetap berlaku. Anggapan atau stigma negatif terhadap tato masih sangat dominan di kalangan masyarakat luas. Harapan masyarakat akan sosok pendidik yang bersih, rapi dan tidak bertato tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kalangan mahasiswa yang sudah memututuskan dirinya untuk bertato.

Filsuf Thomas Aquinas (Sutrisno dan Verhaaak, 1993), menjelaskan pandangan tentang estetika sebagai “keindahan berkaitan dengan pengetahuan. Individu menyebut sesuatu itu indah jika sesuatu itu menyenangkan mata sang individu”. Selain penekanan pada pengetahuan, yang paling mencolok adalah peranan subjek dalam hal keindahan. Menurut Clive Bell (Sutrisno, 1999) bahwa nilai estetika bisa peroleh melalui suatu pengalaman estetik. Artinya bahwa seseorang hanya dapat tahu sesuatu itu kalau seseorang pernah mengalami estetis. Dan, bukan karena diberi tahu.