Sementara sebelumnya bicara tentang kisah Anak Manusia ‘yang menderita, mati dan bangkit’ toh para murid tak paham namun tak punya selera untuk bertanya apa artinya semuanya. Mereka malah larut dalam keributan ‘siapa yang terbesar di antara mereka.’
Bila ditafsir rombengan dan seadanya, bisa terjadi para murid sedikit paham bahwa Yesus, sang Guru ‘segera pergi dan tinggalkan mereka. Maka ‘yang terbesar di antara mereka mesti jadi pemimpin.’ Atau bahwa setelah ‘dibunuh dan bangkit’ Yesus segera masuk dalam kemuliaanNya, dan ‘yang terbesar dari para murid akan dapatkan posisi yang penting dalam kekuasaanNya.’
Masing-masing murid nampaknya merasa ‘punya jasa dan andil, punya perjuangan, kerja keras dan pengaruh dalam kebersamaan bersama Yesus, Tuhan dan Guru. Nah, sekiranya Ia datang dalam kemuliaan kebangkitanNya, maka ‘yang terbesar itulah’ yang berhak merapat untuk dapatkan tempat yang menentukan pula.
Wah, sekiranya ini yang terjadi, nampaknya para murid tak mau ikuti Yesus ‘suka rela bodo-bodo.’ Sebab, hati tetap mengincar posisi, tempat, kedudukan, jabatan atau kewenangan sebagai buah atau efek manis dari ‘ada, tinggal dan ikuti Yesus’ menuju kemuliaanNya.
Inikah yang disebut ‘kemuridan transaksional?’ Yang lalu mesti ‘saling ribut untuk tegaskan siapa yang paling berjasa, berkorban, lebih berandil demi ‘kemenangan kebangkitan Yesus?’ Dan dia itulah ‘yang terbesar?’ Dan karena itu pula lah berhak dapatkan posisi dan kedudukan?
Di ujung ribut-ribut dan saling sikut yang telah terjadi, dan mungkin akan terus berlanjut, animasi dan pedagogi klaim ‘siapa terbesar’ mesti disuarakan Yesus. Satu standar baru, tegas, dan amatlah asing buat Para murid mesti digaungkan:
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











