Setelah itu, Noldi memutuskan memindahkan lokasi usahanya ke Kampung Lamba, kampung asal istrinya. Di tempat yang merupakan kampung anak rona atau keluarga besar pihak mantu itulah ia melanjutkan perjalanan usaha tempe yang telah dirintisnya.
Keputusan tersebut ternyata menjadi titik balik penting. Perlahan usahanya kembali berkembang dan mendapat kepercayaan pasar.
Saat ini rumah produksi tempe milik Noldi telah dikelola dengan fasilitas yang cukup baik, bersih, dan memenuhi standar kesehatan. Selain memproduksi tempe dan tahu, ia juga membuka toko serta memiliki kendaraan operasional untuk mendukung distribusi usaha.
Keseriusannya menjaga kualitas produksi menarik perhatian beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk membangun kerja sama.
Kepada para peserta, Noldi mendorong orang muda untuk tidak takut menghadapi kegagalan. Menurutnya, kegagalan merupakan bagian dari proses belajar untuk memperbaiki diri dan memperkuat mental usaha.
“Kalau gagal jangan langsung menyerah. Dari kegagalan kita belajar memperbaiki diri. Kita harus yakin bahwa apa yang kita lakukan hari ini untuk masa depan kita dan orang tua,” ujar Noldi.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun relasi yang sehat dan saling mendukung. Menurutnya, orang muda perlu berteman dengan orang-orang yang memiliki arah dan tujuan hidup yang baik, serta tidak mudah terpengaruh oleh kebiasaan negatif seperti minuman keras atau sopi yang dapat merusak masa depan dan semangat kerja.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

Tinggalkan Balasan