Dari Kampung Null, Orang Muda Belajar Bertahan

Menurutnya, kemampuan membangun relasi, menjaga kepercayaan, serta ketahanan menghadapi kegagalan menjadi hal penting yang ingin dipelajari para peserta.

Dalam perjumpaan tersebut, Noldi mengisahkan perubahan cara berpikirnya setelah kembali dari tanah rantau di Kalimantan dan Kupang. Pengalaman hidup di luar daerah membuat dirinya sadar bahwa kampung juga memiliki peluang ekonomi besar apabila dikelola dengan kerja keras dan keberanian memulai.

Momentum penting itu terjadi pada tahun 2016 ketika Yayasan Ayo Indonesia yang membawa misi pemberdayaan petani mendapat kesempatan dari Romo Stef Sawur, Pastor Paroki Tanggar, untuk menyampaikan sosialisasi dalam perayaan misa di Kapela Null.

Setelah misa selesai, Noldi menunggu dua staf Yayasan Ayo Indonesia di halaman depan gereja. Dari percakapan sederhana di halaman kapela itulah relasi mereka mulai terbangun. Mereka berdiskusi panjang tentang peluang usaha dan kondisi ekonomi masyarakat kampung. Dalam pertemuan tersebut, mereka sepakat memulai kerja sama melalui pelatihan pembuatan tempe.

“Waktu itu saya berpikir, kalau orang luar bisa bikin tempe di Manggarai, kenapa kita orang kampung tidak bisa?” tutur Noldi.

Sejak saat itu komunikasi terus terjalin hingga sekarang. Bahkan dalam perjalanan berikutnya, Yayasan Ayo Indonesia beberapa kali meminta Noldi menjadi narasumber dalam pelatihan kewirausahaan bagi orang muda dan masyarakat.

Noldi mengaku senang karena melalui perjumpaan tersebut dirinya tidak hanya dikenal sebagai pelaku usaha, tetapi juga dipercaya membagikan pengalaman hidup kepada generasi muda. Menurutnya, pengalaman sederhana sekalipun dapat menjadi sumber inspirasi ketika dibagikan dengan tulus.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses