Rumah milik Noldi sendiri tergolong besar dan cukup megah untuk ukuran kampung. Bangunan dua lantai dari tembok itu berdiri kokoh di dekat aliran kali kecil yang airnya mengalir tenang di belakang rumah. Pada lantai atas terdapat ruang tamu dan toko, sedangkan di lantai bawah terdapat ruang tamu utama dan dapur keluarga.
Di ruang lantai bawah itulah para peserta duduk bersama mengikuti lejong dengan Noldi, pengusaha muda yang didampingi istrinya selama kegiatan berlangsung. Percakapan berlangsung hangat dan akrab, seolah tidak ada jarak antara narasumber dan peserta.
Selama kegiatan lejong berlangsung, peserta menikmati kopi arabika hangat yang ditemani kue sombo, makanan khas Manggarai yang dibuat dari jagung yang dihaluskan lalu dikukus. Sambil menyeruput kopi, mereka mendengar suara air kali yang mengalir tenang di belakang rumah Noldi, menghadirkan suasana kampung yang damai dan menenangkan.
Dalam suasana lejong ketika Noldi membagikan kisah perjalanan usahanya, para peserta mendengarkan dengan penuh perhatian. Tatapan mereka tertuju pada wajah Noldi sebagai tanda bahwa mereka sungguh ingin belajar dan berharap suatu saat mampu berhasil seperti dirinya.
Salah satu kisah yang paling menginspirasi peserta adalah perjalanan usaha tempe milik Noldi. Ia memulai usahanya dari skala sangat kecil dengan hanya lima kilogram kedelai. Melalui proses panjang, usahanya kini berkembang hingga mampu memproduksi sekitar 250 kilogram tempe setiap hari.
Usaha itu tidak hanya menghadirkan keuntungan ekonomi bagi keluarga, tetapi juga membuka jalan bagi kemandirian orang muda. Tujuh orang muda yang sebelumnya bekerja bersamanya kini telah mampu memproduksi tempe secara mandiri. Untuk kebutuhan tahu, mereka masih mengambil pasokan dari usaha milik Noldi.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

Tinggalkan Balasan