Relasi bisnis yang dibangun Noldi tidak berhenti pada hubungan dagang semata. Ia berusaha menjaga hubungan sosial dengan para pekerja dan pelanggannya. Baginya, keberhasilan usaha tidak mungkin dicapai sendirian.
Dalam beberapa tahun terakhir, Noldi mempekerjakan tujuh orang muda yang menggunakan sepeda motor untuk menjual tempe ke berbagai wilayah di Manggarai. Ia berharap semakin banyak anak muda mampu bertahan di kampung dengan membangun usaha sendiri.
“Kalau potensi pasar dikelola dengan baik, orang Manggarai sebenarnya bisa menjadi tuan di tanahnya sendiri,” katanya.
Noldi mengisahkan bahwa gagasan membuka usaha tempe muncul ketika ia melihat bisnis tempe di Manggarai lebih banyak dikuasai pendatang dari luar daerah. Dari situ muncul pertanyaan dalam dirinya mengapa masyarakat lokal tidak mampu memproduksi sendiri.
Dengan keberanian dan perhitungan matang, ia mulai memproduksi tempe dan kemudian mengembangkan usaha tahu setelah berdiskusi panjang bersama istrinya.
Perjalanan membangun usaha tentu tidak selalu berjalan mulus. Noldi pernah mengalami kegagalan ketika membeli kedelai dengan harga mahal, namun hasil produksinya gagal menjadi tempe meskipun proses pengolahannya dilakukan seperti biasa.
Kegagalan itu sempat membuatnya putus asa. Namun dukungan istrinya dan kemampuannya menjaga pikiran tetap positif membuatnya perlahan bangkit kembali.
“Saya percaya kegagalan itu ujian supaya kita belajar lebih kuat,” ujarnya.
Ketika usahanya hampir mengalami kebangkrutan, Noldi terdorong mencari orang yang dapat membantunya menemukan jalan keluar. Dalam proses tersebut ia bertemu seorang perantau asal Jawa yang tinggal di Karot. Pertemuan itu memberinya energi baru untuk melanjutkan usaha.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

Tinggalkan Balasan